CERPEN~TASBIH HIJAU UNTUK BUNDA..........
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.4129 - 259.WAR
KRONOLOGIS KARYA » CERPEN~TASBIH HIJAU UNTUK BUNDA.......... ± Cerita Pendek - Inspirasi © WaraSrikandi. Posted : 2012-09-11 : 23:00:29 (2851 hari -05:38:03 lalu) HITS : 2816 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama () Editor
  RESENSI :
“Bunda, maaf Ida tak sempat beli kado special buat Bunda, tapi ini, Ida hanya punya Tasbih kecil buat Bunda..”
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
CERPEN~TASBIH HIJAU UNTUK BUNDA.......... WaraSrikandi« Dari hatimulah mengalir mata air kasih sayang dan dari tutur lembutmulah terlahir putra putri berjiwa besar.....

.--    Sumber : Koleksi pribadi Wara Srikandi Dua hari lagi, peringatan hari kelahiran Bunda, tepat tiga hari sebelum hari Ibu. Sementara aku masih sibuk dengan ekskulku, juga sibuk dengan ajakan teman-temanku. Saat malam tubuhku telah lelah dan penat pun menghampiri isi kepalaku. Lelah tuk berfikir bahkan kadang lupa dengan apa yang terlintas disiang hari. Seperti juga malam ini, usai karaokean bareng teman-teman aku kelelahan. Biasa malam minggu Bunda memang membolehkan aku keluar dengan teman-teman asal tidak sampai larut malam, dengan catatan jam sembilan harus sampai rumah. Uuh…penat rasanya, karna tiap hari sabtu jadwal ekskul padat, setengah dua belas tet udah mulai melenggak lenggok di lab kesenian, ekstra tari dua jam penuh, istirahat setengah jam aku pakai tuk makan siang dengan bekal dari rumah. Bukan aku tak ingin jajan dikantin, tapi buatku bekal buatan Bunda tiada duanya, ekstra karate sampai jam empat, lalu langsung ekstra melukis sampai setengah enam. Pulang cukup buat mandi dan ganti baju, terus hang out sama teman-teman, fyuh pokoknya capek deh. Baru sadar sekarang kenapa Ayah dan Bunda membolehkan aku mengikuti kegiatan ekskul begitu banyak juga memberikan aku sedikit kebebasan cuma dengan catatan “Jangan lupa lima waktunya, Nduk”, dan memang aku tidak pernah berani meninggalkannya. Buatku menjaga kepercayaan itu prinsip. Dan tentang kebebasan itu ternyata, ketika minggu tiba, usai melek untuk sholat subuh badanku pasti masih sangat lelah, hingga tertidur kembali dan itu pasti, lalu siangnya pasti pula malas mau kemana-mana, dengan begitu Bunda akan tenang sebab putrinya anteng dirumah.

Tepat dan seperti biasanya, minggu ini penat terasa. Sampai-sampai aku lupa belum membelikan kado buat Bunda. Duh padahal, tidak mungkin juga bilang Bunda mau keluar, itu ngowah owahi adat kata Uti. Walah gimana dong, Indah juga pasti gak mikir yang beginian. Oh ya, aku sulung dari dua bersaudari, karena adikku juga perempuan, namanya Indah Virlia, sedang aku Ida Pangestuti, bagus kan namaku, mungkin maksud Ayah dan Bunda menamai begitu agar aku menjadi anak yang selalu mendapat restu, baik dari orang tua atau Allah, yaaah amiin untuk itu. Dan mungkin karna itu juga setiap mau apa-apa dan kemana-mana belum sreg rasanya kalau tidak ijin dulu pada mereka terlebih pada Bunda.

“Kriiiiiiiiiiiiing..”, tiba-tiba telefon rumah berbunyi, hmmm, semoga saja ada celah untuk keluar rumah, mana sudah besok ini, biasanya tepat usai sholat subuh berjamaah aku serahkan kado buat Bunda. “Ida…….sayang telfon dari Uti ini..”, suara Bunda dari ruang tengah, bergegas aku berlari. “Asalamu’alaikum Uti…ada apa, tumben, pasti kangen yah sama Ida…”, terdengar suara Uti dari seberang sana, lembut suara Utiku, “Nduk, kamu bisa bantu Uti, sekalian sama Indah ya, bantu Uti disini, lagian kamu dan Adik kan lama juga gak kerumah Uti dan Akung..”, “Uti, Ida pamit Bunda dulu yah, kalau boleh Ida sama Adik berangkat.”, tiba-tiba Bunda menepuk bahuku sembari mengangguk dan tersenyum, hmmm tandanya Bunda sudah tau maksud Uti telefon, “Yah Uti, Bunda sudah kasih ijin kok..”. Klek…suara telfon diletakkan Uti.

“Bawa ini untuk Uti, kamu boleh bawa motor tapi hati-hati.”, “Iya Bund…”. Bunda menitipkan masakan buat Uti, ada kue juga yang tadi pagi dibuat Bunda. Tak lupa setiap kali pamit Bunda selalu meniupkan do’a di kepalaku, dan itu sangat menenangkan hatiku. Oh..Bunda…aku sangat menyayangimu, hampir jatuh airmataku ketika ingat belum ada kado tuk hari Ibu dan sekaligus hadiah tuk ulang tahun Bunda. Indah telah siap didepan, ku stater motor. Bruuum…”, Bunda, kami berangkat dulu, kalau kesorean gak papa yah..?”, anggukan Bunda dan senyum itu telah cukup sebagai restu buatku. Bismillahi tawakaltu…

Setengah jam melaju dengan kecepatan sedang, sampai juga dirumah Uti. Sementara diteras Tante Sari dengan senyum manisnya menyambut kami, “Tuh, udah ditunggu Uti, cepetan..”, Indah turun duluan dan gak sabar masuk kedalam rumah. Ku parkir motor di dalam teras, karna rumah Uti tidak ada halamanya, begitu keluar pagar teras sudah jalan kampung. Segera aku masuk keruang tengah dimana Uti dan Indah sudah ngglempoh disana, lalu meletakkan titipan Bunda di meja makan. Oh ternyata Uti sedang meronce tasbih disana, wah alamat deh bisa pulang sampai sore dan gak sempat beli kado buat Bunda. Tapi aku tetap tersenyum biar Uti tidak melihat kekecewaan diwajahku. “Ayo Nduk, bantu Uti biar cepet selesai..”, “Banyak pesanan yah Uti..?”, tanyaku “ Iya…nanti malam mau di ambil yang pesan, ini masih separo selesai.”, Indah nampaknya suka sekali dan menikmati meronce tasbih. Sementara aku sedikit gelisah, semoga saja Uti tak membaca kegelisahanku ini.

Hampir maghrib, semua biji tasbih akhirnya teronce semua, masih ada sisa, tapi dikit. “Uti, ini masih ada sisa, cukup buat tasbih kecil, boleh Ida ronce buat Ida, Uti..?”, “Iya boleh…”, Uti tersenyum sambil mengangguk, duh senengnya, tinggal biji warna hijau, dan aku suka warna hijau memang. Akhirnya jadi juga tasbih pendek dengan biji 33 buah. Setelah disimpul dan diberi rumbai aku masukkan dalam saku, setelah terlebih dahulu ijin Uti untuk kubawa pulang. “Yuk Dik, kita pulang, setelah ini belajar dan menyiapkan buku pelajaran buat besok, biar kalau kesiangan gak bingung lagi, yuk pulang..”. Indah segera berdiri, lalu menarik tangan Uti, AKung dan Tante Sari bergantian. Hmmm, seringkali aku tersenyum melihat ulah adikku, usianya memang jauh terpaut dari aku, sembilan tahun, namun dia Adik yang sangat manis, seringkali menjadi penghiburku kalau lagi ada masalah disekolah. Lucu aja melihat tingkahnya yang memang masih kekanak-kanakan,. Eh namanya juga anak-anak… setelah berpamitan kami pulang. Sedikit cemas karena harus melewati jalan raya dan telah lewat adzan maghrib, harus lekas sampai rumah nih, belum sholat lagi.

Dengan hati was-was akhirnya sampai juga dirumah. Begitu terdengar motor berhenti didepan rumah Bunda segera membukakan pintu, rupanya Bunda telah menunggu kami. “Cepat mandi, Bunda sudah rebuskan air tadi, dan sudah Bunda siapkan dibak mandi, lalu lekas sholat maghrib ya Nak..”, suara Bunda terdengar lembut.

Usai mandi dan sholat maghrib, Ayah dan Bunda telah menunggu dimeja makan, hmmm, ada sayur sop yang masih panas, ayam goreng, sambel trasi, krupuk, tempe juga tahu goreng. Alhamdulillah yaa Allah, meskipun sederhana namun selalu nikmat rasanya ketika kami bisa makan malam dan seluruh anggota keluarga bisa berkumpul seperti ini. Ayah, Bunda, aku bahagia ada diantara kalian, bahagia menjadi putri kalian, lama kupandang wajah lembut Bundaku lalu beralih pada teduh wajah Ayah…aku tertegun, tak kubayangkan bila keluarga ini harus terpisah, ah semoga saja tak pernah ada badai dalam rumah ini, kedua mataku sedikit tergenang, aku segera tertunduk, lalu mambaca doa sebelum makan. Lalu mulai lahap menghabiskan hidangan dipiring. Masakan Bundaku selalu terasa nikmat, mungkin karna Bunda selalu memasaknya dengan penuh cinta.

Makan malam usai, hatiku masih kacau, kado buat Bunda belum juga kudapat, sedang esok sudah waktunya. Hmmm, beruntung telah akhir semester ganjil, dan ujian juga telah usai, tinggal menunggu jadwal bagi raport dan liburan tiba, sehingga tak belajar pun akan dimaklumi Ayah dan Bunda. Dari ruang tengah, terdengar suara denting gitar, itu pasti Ayah, dan biasanya Bunda telah siap disamping Ayah tuk bernyanyi. Disaat seperti ini aku selalu dan sangat bersyukur berada diantara keluarga ini. Menepis galauku, segera kususul Indah yang telah dulu ndusel diantara Ayah dan Bunda.

Hmmm, wajah Bunda nampak sumringah, matanya pun berbinar dengan indah, tatapnya lembut tak lepas dari wajah teduh Ayah. Yaa Allah…jangan pernah sirnakan kebahagiaan ini, jangan pernah ceraikan keluarga ini. Sungguh gerimis hatiku, Ayah..terimakasih telah menciptakan surga ini tuk kami anak-anakmu. Bunda, terimakasih pula tuk menghiasi rumah ini dengan curahan kasih sayangmu, dan senantiasa membuat kami bangga sebagai buah hatimu. Indah telah bermain dalam pangkuan Bunda, sembari turut bernyanyi. Aku segera bergabung dan memeluk tubuh Ayah dari belakang dan menciumnya. Lalu kubisikkan ditelinga Ayah dengan lembut, “Ayah…terimakasih untuk seluruh kasih sayang ini, jangan pernah pisahkan keluarga ini ya Ayah….”, tenggorokanku serasa kering, tersekat…lalu mendadak basah ketika Ayah tersenyum dan membalas ciumanku. Kupandangi keluarga kecil ini, hmmm….ada hangat merayap dihati dan mulai menjalar kemataku. Dan sebelum jatuh menjadi bulir airmata aku telah berbaur bernyanyi … hingga kantuk menghinggap mata kami.

***

Adzan subuh membangunkanku, bergegas ambil wudlu dan keruang sholat, Ayah dan Bunda telah menunggu, bahkan Indah telah pula bersiap, hanya aku yang terlambat rupanya. Dengan sedikit tergopoh kutemui ketiganya. Kali ini do’a Ayah agak sedikit panjang, ditengahnya disisip do’a untuk Bunda, aku hanya mampu tertegun, sampai Ayah mengusaikan do’anya. Lalu berbalik menghadap kami. Bunda mencium tangan Ayah, “Ayah….maafkan Bunda bila selama menjadi istri Ayah telah banyak melakukan kesalahan, karna sebagai manusia Bunda banyak mempunyai kekurangan, terimakasih untuk kasih sayang Ayah pada keluarga ini..”, Bunda menitikkan airmata, Ayah mencium lalu memeluk Bunda, “Ayah juga minta maaf, atas hal yang sama, maaf juga bila Ayah pernah menyakiti Bunda dengan kata-kata maupun perlakuan Ayah terhadap Bunda..”. Lalu Indah seperti biasa mencium tangan Ayah dan Bunda bergantian. Kini giliranku, kucium tangan Ayah lalu memeluknya sembari berbisik, “Terimakasih Ayah untuk banyak cinta pada kami, dan selalu membuat Bunda tersenyum..”, Ayah memelukku dengan erat, aku tau dan aku merasakan serta mengerti maksud Ayah.

Lalu aku berbalik pada Bundaku, kucium tangannya dan kedua pipinya, “Bunda, selamat ulang tahun, maafkan Ida jika seringkali membuat jengkel Bunda, dan terimakasih telah menghiasi dan menghujani kami dengan kasih sayang…”, Bunda mengangguk dan tersenyum, kembali kataku dengan sedikit ragu, “Bunda, maaf Ida tak sempat beli kado special buat Bunda, tapi ini, Ida hanya punya Tasbih kecil buat Bunda..”, Bunda memelukku dan tersedu, “Terimakasih sayang, sungguh ini hadiah terbesar buat Bunda…”, kembali Bunda memelukku, erat, sangat erat…entah apa yang dirasakan Bunda, tapi..aku tau apa yang aku rasakan…haru. Hingga tangisku luruh, antara bahagia dan menyesal tidak bisa memberikan yang lebih indah untuk Bunda.

Usai subuh itu aku selalu melihat tasbih hijau pemberianku tepat didepan tempat sujud Bunda, diatas sajadahnya. Dan sejak itu pula Bunda selalu keluar terakhir dari tempat sholat seperti beberap bulan sebelumnya.

Hari ini, tepat tanggal 22 Desember, hari Ibu. Subuh. Kami sholat berjamaah seperti biasanya, dan semua usai seperti biasanya, karna saat hari Ibu biasa pula Ayah memberikan kado special buat Bunda saat makan malam. Kali ini, aku sengaja tak langsung masuk kekamarku, aku masih berdiri dipintu ruang sholat. Memandang Bunda yang masih duduk dengan menggenggam tasbih dariku, wirid. Dan ternyata, Ayah pun melakukan hal yang sama dibelakangku, lalu menepuk bahuku dan memberi isyarat masuk kedalam. Kami kembali duduk didekat Bunda, lalu kuberanikan diri bertanya, “Bunda…apakah Bunda sedang berdo’a, do’a apakah yang sedang Bunda wiridkan..?”, Bunda tersenyum, indah…sangat indah, “Tasbih ini, tasbih hijau ini, telah kembali membuat Bunda bisa mengirimkam wirid khusus tuk kalian kekasih Bunda, agar senantiasa diberikan kesehatan, agar senantiasa berada disisi Bunda. Sebelas hitungan untuk Ayah, sebelas hitungan untuk Ida dan sebelas hitungan untuk Indah. Karna beberapa bulan yang lalu tasbih yang ada telah putus talinya, berulangkali Bunda sambungkan tapi putus lagi, mungkin talinya telah aus..terimakasih sayang untuk pemberian yang istimewa ini…”, Aku memeluk Bundaku, lalu menangis dipangkuannya, hingga tersedu. Bunda mengusap halus pungungku, dan membelai lembut kepalaku, sementara Ayah, merangkul dan mencium Bunda…

Terima kasih Ayah, Bunda…aku bahagia menjadi putri kalian, terimakasih atas limpahan kasih sayang ini, Ayah…semoga kau jaga keutuhan keluarga ini hingga akhir hayatmu. Yaa Allah…Maha Suci Engkau, tetap satukan kami dan jangan pernah kau biarkan kami terpisah.

Selamat hari Ibu….Bunda………..

Nakula 14, 22.12.2011


Jawa Timur, 2012-09-11 : 23:00:29
Salam Hormat
Wara Srikandi

Wara Srikandi mulai gabung sejak tepatnya Kamis, 2012-06-21 15:41:56. Wara Srikandi dilahirkan di Malang mempunyai motto
Puisi : 18 Karya
Cerita Pendek : 4 Karya
Total : 22 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-07-02 | 17:22:26
DAFTAR KARYA TULIS Wara Srikandi
Isi Komentar CERPEN~TASBIH HIJAU UNTUK BUNDA.......... 4129
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya CERPEN~TASBIH HIJAU UNTUK BUNDA.......... 4129 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Ketika dihadapkan pada kegagalan atau kekecewaan, hanya ada 2 pilihan bagi anda yaitu menyerah atau ulet.
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti