CERPEN~KUTULIS PESAN INI UNTUKMU KEKASIHKU
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.4118 - 259.WAR
KRONOLOGIS KARYA » CERPEN~KUTULIS PESAN INI UNTUKMU KEKASIHKU ± Cerita Pendek - Cinta © WaraSrikandi. Posted : 2012-09-11 : 14:42:51 (2968 hari -06:30:12 lalu) HITS : 2726 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama () kumpulan puisi mutiarasukma0
  RESENSI :
Yang sampai kini aku belum tahu...
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
CERPEN~KUTULIS PESAN INI UNTUKMU KEKASIHKU WaraSrikandi« Kukatakan kepadamu kekasihku�yang sampai kini aku belum tahu....

.--    Sumber : Koleksi pribadi Wara Srikandi Kukatakan kepadamu kekasihku…
Yang sampai kini aku belum tahu
Sampai nanti…
Saat telah terikrar janji dihadapan tuan kadi
Jangan berharap lebih kepadaku
Aku mencintaimu hanya sebatas jalan menuju kasihNya
Kuharap engkaupun begitu juga adanya
Karena nanti setelah kematian…
Kitapun akan berjalan sendirian
Maka jangan engkau berubah menjadi apa yang kuingini
Dan juga jangan pernah berharap aku akan menjadi apa yang kau kehendaki
Karena aku tak ingin semua menjadi palsu
Bukankah Tuhan menginginkan kita kembali dengan hati yang puas dan diridhoi bukan dengan diri kita yang palsu

Kukatakan kepadamu kekasihku…
Yang sampai kini aku belum tahu
Sampai nanti…
Saat telah terikrar janji dihadapan tuan kadi
Kuharapkan kepadamu nanti …
Berbahagialah engkau bila aku bisa marah dan kecewa kepadamu
Karena aku menjadi jalan ketabahanmu menuju KasihNya
Karena aku juga akan bangga jika engkau mulai rewel dengan segala inginmu
Sungguh engkau membantu terciptanya jalan buatku kepada kasihNya

Oh ya… jangan lupa..
Tak perlu takut atau malu kepada tetangga jika kau harus marah sampai membanting segala pecah belah
Karena memang untuk itu kita membelinya

Kupesankan kepadamu kekasihku…
Yang sampai kini aku belum tahu
Sampai nanti…
Saat telah terikrar janji dihadapan tuan kadi
Suatu hari nanti,
Jangan pernah sakit hati kepadaku jika kau dapati aku masih saja suka membeli asap tembakau
Karena dengan itu aku berharap kau bisa menasehati aku untuk ha-hal yang lebih berguna

Oh sampai aku hampir lupa,
Jika nanti kau memasak hati gunakan sesedikit mungkin bumbu
Agar aku bisa paham betapa pintar kau mengolah segenap rasa
Sesekali buatlah masakan yang keasinan
Biar aku dapat berguna untuk menegur atas teledormu
Kurasa sampai disini dulu kutulis pesanku ini
Nanti jika masih tersisa waktu tuk menunggumu aku lanjutkan lagi
Kutulis ini setelah semalam Tuhan mengirim gerimis
Menjawab tanyaku atas kerinduanku kepadamu
Entah kapan Dia mengijinkanmu bertemu denganku

__________________________________________________________________
Bhumi Kuceswara, 21 Januari 2010 03:25
Ayudya…..wajah thyrusnya masih saja bermain dalam ingatanku, begitupun senyumnya serasa benar-benar melekat dipelupuk mataku. Entah apa yang sesungguhnya kurasakan, kerinduankah…? Atau sekedar luap rasa menahan bara dalam dada. Entahlah, masih belum juga kumengerti, namun yang ku tahu dengan pasti belenggu cinta ini masih begitu penuh memelukku. Mimpiku tuk menuntas hari bersama bidadari hatiku masih bergelora. Meski kini telah hadir Resti disampingku. Gadis ini begitu mencintaiku, dan dengan setia menemani hari-hariku. Sesekali candanya membuatku lupa akan Ayudya, namun itu hanya sementara saja. Dan aku benar-benar sadar sepenuhnya, bahwa penguasa hatiku masihlah Ayudya.

Seperti juga malam ini, ketika gelayut rasa hanya tertuju padanya. Sengaja kumatikan lampu kamar, dan duduk dikursi balkon yang lampunya juga aku matikan. Hanya ujung batang rokokku yang berkedip. Purnama begitu penuh, kalangannya sedikit memerah, lingkar heningnya sampai juga kedasar hatiku. Hampir satu pak kuhabiskan hingga lewat tengah malam. Risau… wajah dan senyum Ayudya kembali bermain dalam anganku, seketika tubuhku mengigil kuat, “Tuhaaaaan………aku tak kuasa menahan bara ini, kerinduanku padanya telah mencekikku. Berdiriku dan mematikan rokok, kusundut tajam kedalam asbak. Kutendang kursi dengan keras, “Aaaaaaaaargh…….!!!”, kuhempas tubuhku kedinding, beberapa kali pula kubenturkan kepala, “Ayudyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!!”, nafasku memburu, nanar pandangku, kuteriakkan namanya kearah langit, serapahku tertelan begitu pahit. Terhuyung, lalu terpekurku bersedeku disudut dinding, kuremas dan kutarik rambut dari kepalaku, namun tak sedikitpun sakit kurasakan. Bah…!!! Kurasakan ada aliran hangat membasah wajahku, aku menangis. Kukepal jemariku, kuhantam sekeras-kerasnya kelantai. Gigilku kian menjadi, Tuhaaan, batinku menjerit, namun tak sepatah katapun mampu kuteriakkan, selain nama Ayudya…. Hingga…tersadarku saat nyeri menusuk ulu hati dengan begitu hebat. “Astaghfirullahhaladziim….Tuhan, ampuni aku, aku tak ingin rasa cinta ini membuatku lupa kepada-Mu, bilapun rasa ini harus tetap ada dan bersemayam dalam jiwaku, biarlah itu semata karena-Mu, dan bila kerinduanku padanya harus bermuara, maka bimbinglah aku agar memuarakannya semata hanya karena-Mu..”, terdengar jam dinding tua berdentang tiga kali, dini hari. Dan belum sepicingpun terpejam mataku. Bergegasku kekamar mandi, berwudlu. Kukenakan baju kokoku, menggelar sajadah, dan…berusaha menenangkan hati dengan sejenak menemui pemilikku….

Adzan subuh membangunkanku, masih juga diatas sajadahku. Entah seberapa penatku hingga tanpa sadar tertidur dalam posisi bersila. Pegal kurasa dikedua bahu dan leher. Bergegas dan kembali berwudlu, tuk hilangkan kantuk yang masih bergelayut. Sejuknya tirta serasa menyusup dalam jiwaku. Yaa Robb….tenangkanlah jiwaku, biarkanku sejenak bercumbu dengan-Mu, menyerahkan segenap jiwa dan ragaku kepada-Mu.

Senin pagi, seperti biasa rutinitas kerja dimulai. Tergambar sudah kelelahan sepanjang hari ini, mungkin efek dari akhir pekan yang kurang panjang. Dan…seperti biasa juga, akan terdengar keluhan-keluhan ditempat kerja, uff….dan tentunya akan mengalun juga dari mulutku…dan disaat seperti itu, sms dan suara Resti akan selalu menghiburku. Seperti siang ini…”Mas….sudah waktunya makan siang, istirahat dululah, jangan lupa sholat juga… Ma’af, Res gak bisa telfon, ini masih ada diruang rapat. Peluk dan cium Res buat mas…”, pesan singkat Res buatku. Dan jawabku hanya singkat, “Iya, terimakasih..”

Selalu saja ada sembilu ketika aku membalas perlakuan tulus Res, namun aku pun tak pernah tega tuk mendiamkannya. Res, dialah perempuan yang telah mengisi hariku dengan cintanya, sepeninggal Ayudya, meskipun dengan jujur aku katakana, Res tak pernah bisa menggantikan posisi Ayudya dalam hatiku, tetap saja singgasana itu miliknya, milik Ayudya. Terkadang aku merasa menyesal tak bisa memberikan yang terbaik tuk Res, sedang dia begitu tulus berharap cintaku. Namun ketika rindu kuat membekapku, lagi-lagi wajah lembut Res tersapu dari ingatanku.

SAJAK UNTUK KEKASIHKU

Aku Engkau dan Sebuah Kisah Klasik
Ketika semalam hujan menyiramku

Bertanya pada gemercik rinai yang menitik..
Tentang suatu kenyataan...

Aku dalam rasaku Engkau dalam tiada dayamu
Melangkah kita dalam sebuah kisah sepanjang musim
Sebelum tetes hujan berakhir
Dalam sebuah kisah klasik di bumi mataram

Gelanyut awan menghitam dan tetesan hujan
Adalah setitik harapan...
Menggapai impianku sepanjang musim ini
Sebelum tetes terakhir hujan jatuh ke bumi

Aku dalam segenap rasaku
Masih berharap pucuk daun itu bersemi

Tuesday, 9 March 2010 at 21:50 ·

Ayudya…tak pernah habis kata tuk melukis keindahan senyumnya. Dan hatiku telah takluk dihadapannya, bahkan ketika luka hati dalam terpahat, dia tetap yang terindah, hingga tak satupun serapah mampu kusumpah atasnya. Selalu saja do’a yang tersisip disetiap sujudku. Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana dengan terbata dan airmata berlinang seakan tiada terhenti. Sesenggukan ia dihadapanku, menatap dalam kearah bumi, sembari terisak dari mungil bibirnya tertutur “Mas…maafkan aku, sesungguhnya aku tak pernah ingin berpisah darimu, bahkan aku tak pernah sanggup membayangkan bila harus menjauh darimu, namun apa dayaku. Semua ini harus berlaku atasmu dan atasku.”, Ayudya tertunduk kian dalam, dan isaknya kian menjadi, aku pun kian larut dengan kekalutan hatiku, hingga aku lupa tuk memeluknya. Hingga tanpa sadar aku berbicara dengan nada tinggi, “Lalu apa alasannya, hingga orang tuamu menolak dan tak merestui hubungan kita..?”, isak Ayudya kian kerap dan tarikan nafasnya terdengar sangat berat dan aku kian tak sabar menunggu jawaban Ayudya, “kar..karna menurut bapak, kamu orang Kediri Mas, sedang aku dari Blitar..”, sejenak aku teringat akan sebuah legenda “Lalu apa hubungannya, kita tidak lahir dijaman Singosari atau Majapahit, kita manusia modern, bahkan kita tidak pernah tau apa dan bagaimana prosesnya hingga Gunung Kelud menjadi sumber perseteruan antara Kediri dan Blitar itu…!!!”, aku berteriak dan nyaris histeris kala itu, dan tanpa sadar aku telah melukai hati bidadariku. Perlahan control emosiku kembali melandai, ketika tangis Ayudya memecah hingar hatiku, sembari berdiri dengan perlahan kututur padanya, “Cukup jauh perjalanan kutempuh untuk sampai disini, berharap segera kusanding dirimu. Hanya kurang dari satu jam keterlambatanku sampai padamu, dan semua ini yang kuterima. Aku harus menyeberang Laut Jawa, memindahkan seluruh aktifitasku, meninggalkan pekerjaanku satu-satunya, tuk menyuntingmu dihadapan keluargamu. Demi masa depan kita, demi mimpi kita…namun kekecewaan yang kuterima sayang… dan aku tidak yakin hanya karena mitos yang tak jelas itu semua asa dan mimpiku hancur berantakan, asa kita, mimpi kita..”, kembali aku terduduk, kugenggam kedua telapaknya, dan menatap jauh ke dalam matanya. Kubelai rambut ikalnya, lalu kusibakkan anak rambut yang seperti surai disisi pelipisnya. Cantik…begitu teduh saat aku memandangnya. Tuhaaaaan…tak mungkin aku melepasnya, semoga saja rasa cintaku tak membuatku buta akan cinta-Mu.

Lama kami saling diam, Ayudya tetap dalam isaknya, dan tarikan nafas yang begitu berat mengakhiri semuanya, aku berdiri tuk menahan sebahku melihat bidadariku tersedu, dan seketika Ayudya menghambur dalam pelukku, tangisnya menjadi, kupeluk erat tubuh kekasihku. Dalam tangisnya samar kudengar… “Mas…ma…afkan A..yuk…”, Dalam hati aku menjerit, namun pantang buatku tuk menjadi manusia lembek yang runtuh ketegarannya hanya karena cinta. Namun perih tetap saja bergelayut dalam dadaku. Ingin sekali kuteriaki telinga orang-orang yang masih mengatas namakan sejarah tuk memisahkan cintaku dan Ayudya. “Aku bukanlah Lembu Sora ataupun Mahesa Sura, dan Ayudya, kekasih hatiku itu bukanlah Dewi Kilisuci. Kami bukanlah mereka, dan kami tidak pernah kenal orang-orang itu. Tetap kupeluk Ayudyaku, lalu dengan lembut kususut sembab wajahnya dengan punggung tanganku, dan berusaha menenangkannya. “Sabar sayang, bila kita terlahir untuk bersama tentu akan selalu ada jalan, namun bila memang kita tidak ditakdirkan bersama, ya kita harus terima, dan InsyaAllah yang terjadi adalah yang terbaik buat kita, buatmu juga buatku”. Mereda tangis Ayudyaku, lalu aku mengantarnya pulang, meskipun tidak sampai rumah seperti biasanya.

Lama setelah itu kami tidak saling berkabar, bagiku keputusan orang tua Ayu adalah keputusan tuk hubunganku dengannya. Tak ada kabar apapun dari Ayudyaku, bahkan semua seperti hilang tersapu badai, tapi aneh, tiba-tiba aku teringat mimpiku…tiga malam berturut-turut aku memimpikan hal yang sama, namun aku tak mengerti apa makna dibalik mimpi itu. Dan kebingunganku sempat pula kugoreskan dalam catatan harianku, meski sampai waktu terakhir aku bertemu Ayudya aku masih tak paham apa makna dibaliknya.

27 April,
Aku tak tahu lagi
Mana Bara Mana Unggun
Ataukah
Memang harus kulepas semuanya
Kembali berjalan Pada gelap nan temaram

Hingga sampai suatu ketika, disenja yang ranum, kami bertemu ditempat biasa dulu menghabiskan waktu bersama, wajah Ayu yang telah sembab semenjak pertama datang, dan terus murung dalam kesenduannya, dengan terisak dan terbata ia berkata, ”Mas…ma…afkan Ayu… se.. be.. narnyah… ba.. pak te.. lah men.. jodoh.. kankuh.. de.. ngan…pri..a la..in, ma…afkan A..yuk Mas Seno… Ma..afkan Ayuk ti..dak mengata..kan ini se.. be.. lumnyah..”, seketika menegang wajahku, gemerutuk rahang menahan emosi, namun aku tak ingin lagi menyakiti hati bidadari hatiku. Lalu pelan aku bertanya “Sejak kapan perjodohan itu..?”, dengan wajah penuh ketakutan Ayudya menjawab, “Sejak..akhir…tahun..lalu.. ma…ma’afkan Ayuk mas…”, pecah lagi tangisnya, aku terpejam, ada bara yang seketika membakar dadaku, “Kenapa kamu gak bilang dari dulu…!!”, nadaku meninggi, “Maafkan aku Mas, maaf…kalau kamu marah, marahlah aku terima..”, “Aaah….harusnya kamu bilang dari awal, biar gak sampai begini, lalu kalau sudah terlanjur seperti ini, mau apa lagi Ayu….”, kulihat wajahnya menegang, “Baik…baik mas…berapa harus aku bayar untuk rasa sakit hatimu, katakan..!! Berapapun akan aku bayar..!!”, kutahan luap rasa yang mulai menjajah jiwaku. Kupejam mata dan mulai mengatur nafasku yang mulai memburu, “Ah, sudahlah, segalanya telah berakhir, dan semuanya telah menjadi tidak penting tuk dibicarakan, kita pulang..”, tanpa ba bi bu lagi Ayu berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Aku tetap mengantarnya, meski selama perjalanan tak satu kata pun terucap dari bibir kami. Hingga dia turun dan liukan gaunnya menghilang dari pandanganku.

Kuhempas tubuhku dipembaringan. Kembali aku mengigil, namun kali ini bukan lantaran rinduku yang membuncah, namun karna menahan emosi yang kian berkecamuk. Adzan maghrib terlewat, hingga terdengar kumandang adzan isya’, aku baru tersadar.. ”Astaghfirullahaladziim..”, kusambar handuk ditepi pembaringan, mandi.

Dalam tafakurku…. istighfar…hanya itu yang ku mampu, hingga kembali teringat akan mimpiku, dan sungguh kurasakan keAgungan-Nya, “Sempurna........ Keheningan laut, pusaran air dengan tiga orang bermain didalamnya. Terimakasih yaa Robb, Engkau hadirkan mimpi itu tiga hari berturut turut, isyarat yang sempat tak kupahami, sebelum akhirnya kuterima kabar itu”.

Minggu kedua bulan April tahun ini, setelah sekian waktu berlalu, kembali kutemui bidadari hatiku, dalam ruang kecil diistana hatiku, senyum manisnya, wajah teduhnya, nampak sayu dikedua kelopak matanya. Semua tersaji tepat dihadapanku, disinggasana hati, diatas gelaran permadani merah, semerah candikala senja tadi, ketika tubuhku mengigil menahan kerinduan. Dibalkon yang lampunya sengaja aku matikan. Dibawah lingkar hening pelataran purnama.. disaksikan gemerlapnya kejora. Dalam hati aku berharap akan ada satu bintang yang jatuh, agar aku bisa membuat satu permohonan untuk bidadari hatiku, sebelum buncah rasa menguasai amarah dalam jiwaku….

MENANGISLAH BIDADARIKU

Menangislah bidadariku
Kutuklah awan menghitam jadi hujan
Karena badai telah menghempasku jatuh di lorong lorong kelam
Menimang botol botol hayalan dan membinal di rumah rumah pelacuran

Menangislah bidadariku
Karena ketulusanku hanya disambut permainan
Sakitku ditawar dengan uang

Menangislah bidadariku
Karena aku tak kunjung menemu jalan

Menangislah bidadariku
Sampaikan pada Dzat yang menciptaku
Kapan aku bertemu jalan pulang ________________________________________Purwantoro110412
Nakula 14, 29.05.2012


Jawa Timur, 2012-09-11 : 14:42:51
Salam Hormat
Wara Srikandi

Wara Srikandi mulai gabung sejak tepatnya Kamis, 2012-06-21 15:41:56. Wara Srikandi dilahirkan di Malang mempunyai motto
Puisi : 18 Karya
Cerita Pendek : 4 Karya
Total : 22 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-10-27 | 08:12:39
DAFTAR KARYA TULIS Wara Srikandi
Isi Komentar CERPEN~KUTULIS PESAN INI UNTUKMU KEKASIHKU 4118
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya CERPEN~KUTULIS PESAN INI UNTUKMU KEKASIHKU 4118 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Komsentrasilah terhadap segala pekerjaanmu. Segala sesuatu tidak akan berhasil sampai Anda mendapatkan sebuah fokus.
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti