CERPEN ~ MENANTI SEBUAH JAWABAN....
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3826 - 259.WAR
KRONOLOGIS KARYA » CERPEN ~ MENANTI SEBUAH JAWABAN.... ± Cerita Pendek - Cinta © WaraSrikandi. Posted : 2012-06-23 : 13:54:35 (2969 hari -04:59:31 lalu) HITS : 2777 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama () Editor
  RESENSI :
MENANTI SEBUAH JAWABAN....
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
CERPEN ~ MENANTI SEBUAH JAWABAN.... WaraSrikandi« Disini, paksa aku tuk raih jasad tak bertubuh itu, agar bercumbu dalam kata-kata....

.--    Sumber : Wara Srikandi (koleksi pribadi) Hujan senja telah melumat tubuh kurusku. Terpaksa aku berteduh diteras toko yang sudah tutup. Tepat pukul 18.15, hujan belum juga reda. Perjalanan jauh dari Nganjuk menuju arah Malang, kutempuh dengan bersepeda motor, dengan tubuh menggigil sejak tiga jam perjalanan ternyata cukup melelahkanku juga, dan pada akhirnya aku menyerah. Semula aku nekad tanpa jas hujan, aku ingin menikmati setiap jengkal waktu tuk mengingat kembali saat Radika memboncengku saat menjemputku dulu ketika masa liburan panjang usai sembari melepas rindu. Masa itu yah masa itu, masa dimana aku dan Radika masih menjadi sepasang kekasih. Setiap sudut bercerita, setiap jengkal menabur aroma. Bahkan aroma Armani dari tubuh Dika masih begitu membiusku. Dan saat senja mulai merembah, tiupan sang bayu begitu menusuk dan serasa menghujam hingga jantungku. Ngilu tidak saja dipersendian tapi juga ulu hatiku. Deras hujan yang dingin kini telah berbaur dengan deras airmataku. Tak ada lagi kini beda antara hangat airmata dan dingin hujan. Semua luruh, luruh menyatu seperti dekapan eratku waktu itu dipinggang Dika. Dan kini aku hanya bisa mengingatnya dalam memoribiliaku yang tak pernah hilang ditelan waktu.

Hujan masih belum juga reda, sebenarnya hanya tinggal 30 menit lagi perjalananku, akan tiba ditempat kost, tapi deras ini dan tubuhku yang telah menggigil tak memungkinkanku meneruskannya. Tiba-tiba lewat tukang ronde bersepeda motor Ronde ting ting ting suara mangkuk diketuk dengan bilah sendok. Kontan aku lambaikan tangan memanggilnya. Ronde mbak..? , Enggih, duduhe ditambah yo mas, wademe gak ketulungan.. . Saking pundi mbak, kok kebes , Nganjuk mas, jane kurang setengah jam maneh nyampek, tapi kadung kathuken.. , Niki mbak awas panas mangkoke.. , perlahan kugenggam badan mangkok yang sebenarnya memang panas, namun kucoba menahannya dan menyalurkannya ketubuhku melalui telapak tangan. Suwun Mas , dengan cepat kuhabiskan semangkuk ronde ditanganku, lumayan agak hangat tubuhku, begitu juga hujan sudah mulai reda. Usai menandaskan ronde, aku bergegas naik kepunggung sepedaku lagi, mumpung hujan mulai mereda, tetap saja dingin, apalagi semakin malam, dan tidak saja jacketku tapi juga baju dan pakaian dalamku semua basah. Perlahan kupacu sepeda motorku dengan menggigil. Persis setengah jam aku sampai didepan kost-an. Segera kutelfon Hesti, teman sekamarku, Hes cepet buka pintu, aku kedinginan nih.. , Iya..iya.. . Lalu sosok Hesti tergopoh membuka pintu pagar, Ya ampuuun, kok nekat banget siiih, lah emang gak bawa mantel tah, kok sampai kuyub begitu..? , aku diam saja langsung menuntun sepeda motorku kedalam pagar, setelah menenggoknya aku segera masuk kamar. Bergegas ke kamar mandi dan ganti baju. Setelah itu kukeluarkan semua isi tas punggungku yang telah kuyub pula oleh hujan. Beruntung tadi sebelum berangkat kumasukkan semua buku dan bajuku dalam tas plastic terlebih dahulu, kalau tidak pasti sudah basah semua.

Malam telah sangat larut, penat sungguh menghampiriku. Sementara Hesti telah lelap dalam tidurnya, aku masih saja menerawang jauh memandang langit-langit kamarku. Disana masih ada wajah Dika dengan manis senyumnya. Kembali kuingat saat itu, saat terakhir dimana Dika meninggalkanku, disaat aku sangat membutuhkannya, disaat rasa sayang ini begitu besar terhadapnya. Saat semuanya kuyakini akan berakhir dengan indah, namun kenyataan berkata lain. Seorang mahasiswi baru telah pula menjadi tambatan hati baru bagi Dika. Lalu bisaku apa, seribu hiba kuratap pada Dika, namun tatapnya ketus mencampak ibaku. Dika jika saja kau sadari, dan kelak akan kau sadari, betapa hebat cintaku . Tanpa terasa kantuk menghinggap kedua bola mataku, dan lelap sudah aku bersama bayang-bayang Dika.

***

Beruntung hari minggu, aku bangun kesiangan. Hesti juga tak ingin membangunkanku rupanya, tubuhku benar-benar lelah. Sungguh aku merasa sepi sekali, tak seperti setahun yang lalu, saat Dika masih disisiku. Hmmm .semua telah berlalu, yah berlalu Semua terlalu menyakitkan bagiku. Aku masih berusaha menyembunyikan rasaku, berusaha menerima segala perlakuan Dika yang tadinya begitu lembut lalu berubah manjadi raja tega. Ngilu serasa ulu hatiku, setiap kali tanpa ragu mereka bermesra didepanku. Selalu kutahankan segala gejolak rasa yang membara dalam dada. Selalu pula kupejamkan mataku tuk menahan perih dihatiku. Sebah ini sungguh menghujam hingga syaraf tangisku. Serasa seribu kematian telah sampai padaku. Luka terejam cinta sungguh telah membinasakan persendianku. Telah lunglai ditikam waktu. Masih nyeri saat kupandangi foto Dika dimeja kamarku. Ada kerinduan yang masih berkawan mesra, dan aku sadar sepenuhnya, betapa rasa ini masih untuknya. Mendadak terasa sembab dan hampir tergenang kedua danauku, lalu kususut sebelum terjatuh. Bergegas kekamar mandi dan kubersihkan diri. Hari ini, ingin kunikmati sejenak waktu dan bersahabat dengan hati. Perpustakaan kota, yah disana ingin kuhabiskan waktuku sepanjang siang ini.

***

Pukul sepuluh pagi, perpus kota sudah ramai sekali, wah hampir gak ada tempat duduk niih, cari bahan bacaan dulu ajalah, urusan duduk entar juga dapat. Kutelusuri rak wayang, ada judul yang menarik disana, Sumbadra Larung. Telah kumal dan lusuh covernya, meski telah bersampul plastic, namun tetap saja terlihat agak pudar warnanya. Gak ada kursi kosong, jadi aku ikutan ngglusuh saja, disudut ruang yang serupa panggung kecil, beralas karpet hijau. Bersandar pada dinding, lumayan, nyaman juga. Pukul 10.35, baru enam halaman kutelusuri kalimat demi kalimat, tiba-tiba kucium aroma Armani, semerbak memenuhi ruang, dag dug dag dug mendadak jantungku berpacu semakin cepat. Tuhan .Dika.. , aku hanya mampu menelan ludah, bruk Dika terduduk tepat dihadapanku, dengan punggung yang membelakangiku, begitu dekat, bahkan lututku melekat dipinggulnya, namun sama sekali dia tak menyadari kehadiranku. Kuhentikan membaca dan kupandangi Dika dari arah belakang, Tuhan betapa aku ingin memeluknya, namun ketakutan telah menyelinap direlung hatiku. Akhirnya, aku hanya mampu memejamkan kedua mataku lalu mendekap Sumbadra Larung didadaku, begitu erat..hingga tubuh Dika bergeser keras, hingga dia menoleh dan meminta maaf padaku Eh sorry ada yang menyenggol sa . , dihentikan kalimatnya, begitu menyadari aku yang dibelakangnya . Ji Jingga .. , tuturnya pelan, dan aku hanya mampu terpaku, menatap dalam-dalam wajah teduhnya, serasa tak ingin mengedipkan mata, aku takut Dika akan menghilang dari hadapanku. Dengan terbata pula kusebut namanya.. Di Dika.. , Hai .bagaimana kabarmu..? , tangan kanan Dika meraih anak rambut dikeningku dan menyibakkannya kesisi telingaku, aku tak mampu berkata, hanya kembali menelan ludah, dengan sebuah tanya dihatiku, masihkan tersisa rasa itu Dika, masihkah tersisa cinta untukku ?..Lalu lembut tangan Dika meraih jemari kiriku, mengelus punggungnya dengan ibu jari, Maafkan aku , tatapnya lekat kewajahku, dan aku merasakan kedua bola mataku menghangat, dan sebelum luruh hujan dari sana, aku segera menundukkan kepalaku, memandang jauh kearah kakiku, mencoba menerawang tuk menahan tumpah airmataku. Jingga kita bicara diluar yuk , Dika berdiri dan menarik lembut tanganku, sedang tubuhku serasa lunglai, Tuhan aku ingin sekali ada dalam dekapan Dika, namun tiba-tiba saja rasa sakit ini meraja dalam hatiku, tapi tetap kuikuti saja mau Dika. Kuletakkan Sumbadra pada tempat semula, karna tak jauh dari tempatku berdiri, masih dengan jemari yang tergenggam tangan Dika, kuturuni anak tangga, lalu membuka loker dimana tasku tersimpan.

Dika memasangkan helm padaku, yah helm itu, kemarin dan setahun yang lalu, aku tak lagi pernah memakainya, karna Dika telah mengenakannya pada orang lain. Dan kini, kembali Dika mengenakannya padaku. Entah kemana Dika akan membawaku. Selama seperempat jam dalam boncengan Dika, perlahan kudekatkan tubuhku lalu menempelkan pipiku dan memberanikan diri mendekap punggungnya sembari menikmati aroma Armani. Cukup singkat waktu, hingga akhirnya sepeda motor Dika parkir di area food center. Lesehan yang cukup luas, masih ada banyak tempat disana, mungkin karena belum tiba jam makan siang jadi masih banyak tempat yang kosong. Dika menggenggam tanganku, menuju tempat agak kesudut. Masih berdebar jantungku. Dan masih belum mengerti apa mau Dika. Sini, jangan hanya memandangku, duduklah disini, didekatku.. , kata Dika, aku hanya terdiam dan perlahan duduk disampingnya. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku selama setahun ini, dan yang kurasakan begitu tebal perbedaan antara realita dan yang tak nyata. Sejujurnya semua masih sama. Masih ada mimpi kita, masih ada harapan kita, namun semuanya seperti ini. Yah seperti ini, segalanya telah terjadi. , aku semakin tertegun menatap Dika, kalimat-kalimatnya tak jelas kuikuti bermuara ke arah mana, mungkin aku yang terlalu letih untuk mengikuti apa maunya.

Tak banyak akhirnya yang bisa aku katakan, semua serba tiba-tiba. Dan segalanya masih membingungkanku. Hingga hari itu berlalu, dan pertemuan itu tak menghasilkan apa-apa selain kebingunganku. Dan ada nyeri yang kurasakan ketika Dika menginginkan semuanya seperti sedia kala, dimana ada ciuman perpisahan, dan sentuhan lembut jemari. Aku belum menginginkan kemesraan itu secara nyata, karna sembilu terlalu tajam menusuk hingga jiwa.

Aku tertegun menatap langit-langit kamar, tetap ada raut wajah Dika disana. Tergantung bak lukisan malam. Indah bila telah bertabur bintang, namun menjadi pasi ketika mentari mengikis seluruh rasi. Serasa penat syaraf otakku. Tak ada sedikitpun niat melangkah menelusuri dinding mimpi. Semua masih begitu terasa nyeri, Dika, Radika .mengapa nganga luka begitu perih setiap kali bibir mengeja namamu. Mauku kau tetap ada dalam rengkuhku, inginku segera kupintal mimpi menjadi reality. Namun mengapa kini gamang yang begitu kuat menemani. Dika, Radika ..tak terlantun lagikan kisi-kisi hatimu dengan dendang kasih kita. Entah berapa lama aku menikmati nyeri ini, hingga kuterlelap dan terjaga kembali keesokan harinya.

Seminggu berlalu, tak seharipun aku ingin dan hati berniat menemui Dika di kampus. Begitupun Dika, tak sekata pun terkirim dalam pesan singkat. Dekat namun serasa jauh, inikah..? Hari minggu seperti biasa, mengitari kota dingin ini dengan keceriaan menaungi hatiku. Telah kubuang segala duka sejak kutemui keasikanku. Menggelusuh dikawasan Wilis atau berbaur dengan para kutu buku di perpus kota. Yah buku dan buku, kini serasa kutemukan wajah dan sentuhan Dika setiap kutemukan judul yang menarik. Sejak pukul sembilan pagi berputar dikawasan Wilis, telah kudapatkan lima buah buku, bukan buku baru tapi buku bekas yang masih menarik tuk kubaca disela waktuku. Kulirik jam tanganku, hmmm, pk.13.50 bergegas aku pulang, Sengaja tak kubawa motor, dengan melenggang kutelusuri kawasan ini. Sengaja pula berjalan kaki, hingga tepat berada dikawasan pahlawan TRIP.

Tepat dibelokan belakang patung, niatku menyeberang jalan kearah bakso bakar Pahlawan Trip, jalan telah lengang, hingga aku menyebrang tanpa was-was. Belum jauh baru sekitar 5 meter menyerong kearah sebrang jalan yang memang lebar, sebuah motor melaju dari arah belakangku. Aku tak menyadari apapun, yang aku rasakan adalah tubuhku serasa melambung dan terpental, merasakan tubuhku melayang di udara, lalu terhempas dengan bagian punggung dan pingganngku yang terlebih dahulu menyentuh aspal jalan. Bruaaaak ..

Gelap sesaat kurasa, hingga kukenali sebuah suara . Jingaaaaaaa ..bangun Jingga..buka matamu, bangun Jingga , kurasakan titik-titik air jatuh diwajahku hingga serasa gerimis membasuh wajahku. Terasa berat namun kupaksa membuka mataku. Dika samar kulihat wajah Dika, namun kuyakin itu Dika, tebar Armani begitu menusuk hidungku. Dika .kaukah itu , lemah suaraku, sayup mungkin, dingin merambah tubuhku, semakin gelap saja rasanya. Jingga, ini Dika, maaf .aku terlalu cepat melajukan motorku, bangun Jingga , Hmmmm, benar itu kamu Dika, ja..ngan memin..ta maaf, kare..na aku ha..nya..i..ngin se..bu..ah ja..wa..ban..sa..jah. , Jingga katakan jawaban apa bangun Jingga, jangan pergi.. , guncangan dibahuku kian keras, mengapa Dika tak sadar, jika aku merasakan sakit dipunggungku, semakin dia mengguncang, semakin sakit rasanya. Dan ulu hatiku semakin tertusuk, seperti ada sembilu yang menyisip disana. Ayo Jingga katakan, apa..? , wajahku kuyub rasanya, air mata Dika jatuh juga di atas bibirku kering tenggorokanku sedikit terbasahi, dan rasa tersekat sedikit terbuka, A ku, tak bi..sa..lu..luh..kan ha..ti..mu, me..nga..pa..? Bu..kan..kah du..lu ha nya a..kuh, di..ha..ti..muh..,me..nga..pa..Di..ka?.. , gelap meremang kian pekat, aku tak mampu lagi mengeluarkan suaraku, semua telah tertelan, dingin .begitu dingin .Dika peluk aku .pekikku hanya terdengar dihatiku ..lirih.

Aku terbangun, berdiri seolah tak terjadi apa-apa. Namun mengapa Dika masih menangis, Di Dika , mengapa .siapa yang tengah dipeluknya oh bukankah itu..a..ku. Oh tidaaaaaaak, mengapa tubuhku disana dan tak bergerak, oh tidaaaaaak, aku tak ingin mati, Dika belum memberiku jawaban.. Tidaaaaaaaaaaaaaaak ..Dikaaa .. oh, mengapa, mengapa tanganku tak mampu merengkuh Dika, berulang aku mengayunkan kedua tanganku kearah Dika, namun mengapa tak bisa tersentuh. Aaaaah .Dikaaaaaaa .., bersimbah airmataku, kini kau hanya mampu menyaksikan Dika memeluk tubuh dinginku, tanpa sempat mengatakan apapun dari bibirnya. Aaah Tuhaaaaaaaaan, mengapa harus begini aku ingin memeluk Dika, aku ingin membalas pelukannya

Raung ambulance telah membawa jasadku bersama Dika, dan ruhku tengah memandang jauh kedalam lubuk hati kekasihku. Diamnya beku, tuturnya bisu. Tak ada emosi di teduh parasnya. Kosong. Sedang bibirku tak henti melafadz bait-bait puisi tuk Dika .


Kekasih,

Satu bait dari doaku,
Telah kukemas sederet tanya untukmu
Ketika hati semakin galau akan kesungguhanmu
Sekelumit rasa telah menyelimuti jiwaku

Aku hanya mampu menikmati
Lantunan suara sendu tak cumbu hatiku
Dari itu kan bawa jasadku
Kian hanyut ikuti arus imajinasi

Suara itu adalah titik-titik nafas
Yang dipersembahkan oleh peri
Bersemerbakan wewangian kembang
Serta menari-narikan alam sadarku
Disini, paksa aku tuk raih jasad tak bertubuh itu
Agar bercumbu dalam kata-kata

Peri mimpi imajinasiku
Adalah khayalan ditiap detak jantungku
Karena dirinya telah ketuk hatiku
Nikmati sendiri dengan mimpi

Tetap kunanti jawaban dari sebuah tanya
Ketika keraguan tengah bergelayut manja
Diammu adalah jelaga tuah
Nan membalut jiwa dalam gelisah

Nakula 14, 18.12.2011

(Puisi, kolaborasi Wara dan Ira)


Jawa Timur, 2012-06-23 : 13:54:35
Salam Hormat
Wara Srikandi

Wara Srikandi mulai gabung sejak tepatnya Kamis, 2012-06-21 15:41:56. Wara Srikandi dilahirkan di Malang mempunyai motto
Puisi : 18 Karya
Cerita Pendek : 4 Karya
Total : 22 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-08-09 | 08:55:04
DAFTAR KARYA TULIS Wara Srikandi
Isi Komentar CERPEN ~ MENANTI SEBUAH JAWABAN.... 3826
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya CERPEN ~ MENANTI SEBUAH JAWABAN.... 3826 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Jalan yang sejauh apapun, selangkah demi selangkah pasti akan sampai di tujuan. Jalan yang sedekat apapun, jika tidak pernah melangkah, maka selama-lamanya tidak pernah akan mencapai tujuannya
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti