CERPEN ~ ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........)
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3824 - 259.WAR
KRONOLOGIS KARYA » CERPEN ~ ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........) ± Cerita Pendek - Inspirasi © WaraSrikandi. Posted : 2012-06-22 : 16:38:43 (3049 hari -09:50:05 lalu) HITS : 2494 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama Bahagia Tanpamu KLA Project (3786) Editor
  RESENSI :
ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........)
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
CERPEN ~ ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........) WaraSrikandi« Tanpa dirimu dekat dimataku, aku bagai ikan tanpa air. Tanpa dirimu ada disisiku, aku bagai hiu tanpa taring. Tanpa dirimu dekap dipelukku, aku bagai pantai tanpa lautan.

.--    Sumber : Wara Srikandi (koleksi pribadi)

Anyer 10 Maret 1999

Paras lembut Ara kunikmati saat
pagi menjelang. Wajah ayu itu kini tepat berada dihadapanku. Rambut
ikalnya tergerai lepas. Kulit halusnya telah sepenuhnya tersentuh
olehku. Kupandangi saat matanya masih terpejam, seperti bidadari sedang
tertidur. Ara…bidadariku, bidadari hatiku. Kini sepenuhnya telah menjadi
milikku. Semalam, telah diserahkannya seluruh jiwa dan raganya padaku.
Tepat satu minggu setelah pernikahan, kami baru bisa melakukannya. Entah
apa yang terjadi dalam sepekan itu. Masing-masing memiliki kesibukan
yang sama sekali tak bisa diganggu. Baik aku ataupun Ara sama-sama
berjibaku membereskan pekerjaan untuk bisa mengambil cuti panjang.
Bahkan akad nikah pun harus kami lakukan melalui telefon. Berhubungan
jarak jauh harus kami lakoni, Aku berada di Jakarta, karena tempat
kerjaku memang disini. Sedang Ara berada dikotaku tercinta, Malang.
Namun begitu sebagai tuntutan pekerjaan membuat Ara lebih sering berada
diluar kota.

Bekerja sebagai manager pemasaran produk dari
salah satu perusahaan terbesar negeri ini membuat Ara harus berpindah
kunjungan setiap beberapa waktu sekali, sebagai konsekwensi dari
tanggung jawabnya terhadap pekerjaan. Sekalipun perempuan Ara sangat
mandiri. Hingga tiba hari pernikahan kami Ara meminta ijin khusus selama
satu hari itu saja untuk melakukan akad nikah. Dan itu pun dilakukan
lewat telefon. Ara bersama keluarganya juga keluarga besarku, menggelar
tasyakuran pernikahan kami, sedang pengantin prianya sendiri masih
berada di kota yang berbeda, mskipun masih satu pulau. Tak sabar rasa
hatiku tuk segera menemui kekasihku, yang kini telah resmi menjadi
istriku, sekalipun kata “SAH” itu aku peroleh melalui telefon. Usai
acara walimahan Ara kembali bekerja, ia berniat mengundurkan diri dari
pekerjaannya untuk menyusul aku disini atau bila mungkin minta dipindah
tugaskan. Dalam lima hari segalanya beres bagi Ara, ijin cuti panjang
sekaligus pindah tugas telah beres semuanya. Dan diiringi restu dari
seluruh keluarga, ia berangkat ke Jakarta menyusulku. Sesampai disini,
ijinku belum keluar. Dan masih harus sehari lagi menunggu. Sembari
menunggu aku telah booking hotel untuk bulan madu kami. Dikawasan Anyer,
sengaja kupilih lokasi wisata itu, ku pesan pula kamar yang menghadap
kearah laut lepas. Ara sengaja kusuruh menunggu disana agar bisa
beristirahat setelah perjalanan jauh.

Malam itu, 9 Maret
1999 hari selasa malam, kususul Araku. Dengan berjuta kebahagiaan
tergenggam, kusempatkan ke satu-satunya toko bunga yang buka 24 jam,
seikat mawar merah untuk bidadariku tercinta. Tepat pukul 20.45 aku
sampai di hotel. Saat pintu kamar terbuka senyum lembut Ara telah
menyambutku. Aroma cythrus berbaur bouget nan lembut semerbak dari tubuh
Ara. Tak kuasa segera kupeluk dan kucium bertubi Araku, lalu perlahan
Ara menyadarkanku, ternyata pintu kamar masih terbuka. Ah..Ara, aku
selalu tak kuasa membendung hasratku padanya, hal itu yang membuatku
memutuskan menjalin hubungan jarak jauh, karena setiap kali aku dekat
dengannya hasrat kelelakianku seketika bergelora.

“Kita
makan malam dulu mas..”, lembut suara Ara, rupanya makan malam telah
dipesan. “Mengapa hanya ada satu piring..?”, aku bertanya, “Aku yang
akan menyuapmu, dari piring dan sendok yang sama akan kutemani makan
malammu. Ara…hampir tak berkedip kupandangi wajah ayu dihadapanku
(Eheeemmm…pasti lagi mbayangin Ayu Titin, xixiixi). “Tuhan..aku
bersyukur akan nikmat hari ini, telah kau pertemukan kerinduanku pada
penguasa hatiku, hendaknya kupinta kebersamaan ini tak pernah berakhir.
Amiin yaa robbal alamin.”, bibirku berucap lirih, sambil menunggu suapan
Ara, “Kau sedang berdo’a…”, tanya Ara lembut, aku mengangguk. Lalu Ara
tersenyum, indah…begiiitu indah. Bergantian sesuap untukku dan sesuap
untuknya, hingga hidangan dimeja licin tandas. “Aku kenyang sayang, tapi
aku tak ingin melewatkan malam ini dengan pulas tertidur, aku ingin
menemanimu hingga pagi, melepas seluruh kerinduanku padamu. Menikmati
harum aroma tubuhmu..”, tuturku hampir tanpa berhenti. Lalu Ara menarik
tanganku, menuju arah balkon. Gaun tidur tipisnya seketika berkibar
tertiup angin laut. Aroma tubuhnya kian semerbak, kupeluk dari arah
punggungnya, kunikmati setiap jengkal keharuman yang merebak dari
tubuhnya. Kujelajah jenjang lehernya, hingga nafas kami memburu.
“Oh…Ara…dekap aku sayang, biarkan aku menikmati lembut wajahmu nan
ayu..”, bisikkku lembut ditelinga Ara..lalu dibalikkannya tubuhnya.
Tertahan tembok rendah balkon, tubuh kami semakin merapat. Lumat sudah
bibir Ara, lumat hingga tak kuasa hasratku.

Tanpa terasa
jam dinding telah menunjukkan tepat pukul 00.00 dan jarum detik mulai
bergeser pertanda pergantian hari mulai bergulir. Gairahku semakin
membara, kupapah tubuh Ara, dan kurebahkan diatas pembaringan, baru
kusadari seprei yang terpasang telah harum bak tersiram parfum Ara. Dan
tidak itu saja, telah ada sebaran melati disana. Satu persatu
kutanggalkan kain yang membebat tubuh bidadariku. Dan kini, kami
sama-sama mabuk akan asmara. Menikmati gairah malam bersama, dengus
nafas-nafas memburu dalam kepasrahan. “Ara…jangan pernah tinggalkan aku
sayang…”, bisikku mesra ditelinga Ara..hanya tatapan sayu dan sebuah
kerjapan dari wajah didepanku. Cukup lama kami berpagut dalam kenikmatan
surga duniawi, gelinjangku dan Ara seiring dengan gelinjang waktu yang
seolah tak mau menunggu. Hingga kepuasan memuncak dan kami sama-sama
tersenyum dalam lelah.

Kukecup bibir ranum Ara, lalu
kudekap kepalanya yang rebah diatas bidang dadaku. Kubelai ikal
rambutnya yang harum. Hingga lelap menghampiri tubuh lelah kami. Dan
pagi ini, masih kulihat Araku tertidur pulas. Masih takjub aku memandang
wajah ayu istriku. Kubelai anak rambut yang tumbuh lebat dikening dan
pelipisnya. Kususut keningnya dengan lembut. Rupanya kecupanku sedikit
mengusiknya, menggeliat tubuh Ara, masih merapat ragaku. Hmmm, kembali
kucium ranum bibirnya, meski polesan warna dadu telah hilang oleh
lumatku semalam. Dalam bibir yang terkulum, matanya mengerjap manja.
Kurasa bibirnya sedikit tertarik sudutnya, Araku sedang tersenyum
kiranya. Tubuhnya semakin merapat padaku, lalu ciuman Ara menikam
seluruh tubuhku. Kembali nafas-nafas menderu memenuhi ruang. Seperti
semalam, erangan lembut Ara hingar dalam kepasrahannya, lalu keletihan
menghampiri tubuh-tubuh kami. Kupeluk Araku, senandungku lirih, bila
semalam Ara yang menitikkan airmata kebahagiaan, maka pagi ini airmata
itu mengalir dari danauku..”Tuhan…ijinkan aku memeluk bidadariku hingga
akhir usiaku. Dan biarkan hanya ajal yang memisahkan kami..”

***

Seminggu
telah berlalu, memulai hari-hari baru. Aku tak sendiri lagi, dirumah
fasilitas kantor kini Ara menemani hari-hariku. Kian hari cintaku pada
Ara kian bertambah, tiada hari terlewatkan tanpa canda. Ara, perempuan
lembut yang dengan segala kelembutannya selalu mampu meredakan amarahku.
Hari berganti bulan berlalu, hampir setahun pernikahan kami kiranya
Tuhan menambah kebahagiaan kami, Ara tengah hamil dan kini hanya tinggal
menghitung hari saja. Aku berharap Ara melahirkan tepat pada tanggal
pernikahan kami, dan perkiraan dokter pun pada tanggal itu, maju
mundurnya paling sehari. Namun ternyata hari itu lewat, belum ada
kontraksi dan Ara masih tenang-tenang saja, justru aku yang panic.
Sebenarnya tak ada sesuatu hal yang aneh saat kehamilannya, bahkan saat
ngidam pun lebih banyak aku yang ingin ini dan itu. Hingga pernah satu
malam, aku kepingin banget yang namanya serutan mangga muda pedas yang
hanya di aduk dengan gula dan sedikit garam plus “gerusan” cabe rawit.
Telah lewat pukul duabelas malam, gak mungkin juga hunting ke istana
buah atau supermarket 24 jam, akhirnya harus telfon tetangga sebelah
yang kebetulan dihalamannya ada tanaman mangga..hmmm…Araku…wajahnya
semakin cantik saat hamil. Kata orang bayinya perempuan, yaah laki atau
perempuan aku akan tetap bersyukur.

Tanggal 9 Maret 2000
sekitar pukul sembilan malam, Ara mulai kontraksi, namun ia begitu
tenang, segala perlengkapan ke rumah sakit telah siap, satu persatu di
usungnya ke ruang tamu dan diletakkan di sofa, lalu perlahan diciumnya
bibirku, itu caranya membangunkanku, bila belum bangun juga maka ia akan
mencium seluruh wajahku berulang-ulang (ambung mubeng tah, qqqq..), dan
terkadang aku sengaja tidak segera bangun agar mendapat lebih banyak
ciuman darinya. Namun kali ini aku segera bangun, “Sudah kontraksi
sayang..?”, tanyaku pada Ara, ia hanya mengangguk sembari tersenyum,
begitu lembut parasnya, senyumnya sangat menawan. Aku bergegas berdiri,
kucari tas-tas berisi perlengkapan Ara, namun sudah tidak ada, “Semua
sudah diruang tamu mas Idan..”, tutur Ara agak pelan…bibirnya komat
kamit, seperti sedang membaca sesuatu, pasti sedang melafal surat atau
do’a. Diraihnya jacket diujung tempat tidur, di ulurkannya padaku.
Kuraih dan segera kukenakan, lalu kubimbing Ara keluar kamar, ke arah
garasi. Sementara ara menunggu di jok depan, aku memasukkan
perlengkapannya, membuka pintu garasi, lalu mengeluarkan mobil. Tak
nampak panik diwajah Araku. Begitu tenang, bahkan senyumnya selalu
tersunging, seperti tak ingin membangun gelisahku.

Alhamdulillah
jalanan lancar, seperti do’a-do’aku sebelumnya, agar saat Ara
melahirkan segala sesuatunya lancar dan jalan tidak macet. Pukul 23.35
sampai dirumah sakit. Aku pilih kamar terbaik tuk Ara, pukul 23.50
kontraksi Ara mulai hebat dokter segera membawa keruang bersalin, aku
diperbolehkan masuk ruangan. Perutku serasa ikut berkontraksi, mulas,
dan cemas akan Ara, sementara bibir Ara tak berhenti berdo’a. “Mas
Idan…baca do’a Mas, baca Al-Ikhlas, biar semua lancer..”, Ara
mengingatkanku, sepertinya kecemasanku sangat terbaca. “Mas…”, panggil
Ara lembut, “Iya sayang…”, kudekatkan telingaku ke arah wajah Ara,
“Nanti jika dia lahir selamat, bantu aku menjaga dia ya..”, aku mengedip
sembari mengangguk dengan senyum dibibirku, tanpa prasangka apapun dan
tanpa firasat apapun mengapa Ara berkata seperti itu.

10
Maret 2000, pukul 00.00 Araku semakin cepat menggerakkan bibirnya, peluh
bercucur disekujur tubuhnya, tangannya begitu kuat menggenggam
tanganku, “Tuhan…beri keselamatan istri dan anakku, ringankan rasa
sakitnya…”, aku tahu Ara sedang kesakitan yang amat sangat, namun tak
satupun keluh yang keluar dari bibir tipisnya, wajahnya memucat…
Sementara dokter member aba, dan beberapa perawat telah siap menunggu
proses kelahiran bayi kami. Ooeeeeek…..nampak kepala mungil menyembul,
aku sempat melihatnya, dengan sangat cepat seluruh tubuh mungilnya
keluar dari gua garba Ara. “Perempuan…”, kata dokter, dengan sigap
perawat membersihkan darah dari tubuh bayi mungilku. Lalu meletakkannya
diatas dada Ara, ada senyum tersungging diwajah Ara. Pasi…namun tetap
indah, tepat pukul 00.10 putri kecilku lahir. Air mata berlinang dipipi
Ara, diwajahku juga, kupeluk keduanya, Ara dan putriku. “Cepat ambil
wudlu mas, bacakan adzan dan iqomah ditelinganya…”, lirih bisik Ara, aku
segera mencari air tuk berwudhu. Bergegas kembali ke ruang bersalin,
dokter masih belum selesai “membersihkan” Ara. Perawat kembali
menyerahkan bayiku, dan tubuhnya telah terbebat kain. Hmmm, wajahnya
sangat lucu…segera ku lafadzkan adzan ditelinga kanannya dan iqomah
ditelinga kirinya. “Yaa Allah jadikan putriku, anak yang sholikhah dan
lembutkan perangainya seperti Rosullullah, kuatkan hatinya seperti
Fatimah az-zahra, merdukan suaranya saat melantun ayat suci seperti
Maryam, dan cantikkan wajahnya seperti Araku…”, gumamku lirih.
“Amiin..”, terdengar suara Ara, sepertinya dia tau aku tengah berdo’a.
senyumnya begitu indah, tangannya melambai lemah kearahku. Kuletakkan
putri kami disampingnya, wajahnya memucat, kugenggam tangannya, begitu
dingin. Kulihat dokter sedikit panik. Pendarahan Ara belum juga
berhenti, kupandangi wajah Ara. “Jangan panik, suamiku, semua akan
segera usai, maafkan aku ya…aku menyayangimu juga putri kita, bantu aku
menjaganya…”, aku mengangguk namun tetap cemas, dengan lemah dan
setengah tenaga yang bahkan hampir habis, diciumnya telapak tangan
kiriku yang berada digenggamannya, lalu diciumnya putri kami.

Mendadak
airmata Ara mengalir deras, wajahnya kian pasi, aku segera memeluknya,
terlebih dahulu kuserahkan putri kami pada perawat. Kucium seluruh
wajahnya. Entah mengapa, airmataku turut luruh, serasa ada getar dan
sembilu dalam dadaku. “Maafkan aku Mas Idan…”, lirih bisik Ara, semakin
terdengar jauh suaranya…aku memeluknya kian kuat, hingga kurasakan
genggam jemarinya terenggang dari lenganku. Kulihat Araku telah
terpejam, dibibirnya tersungging senyuman, bersamaan dengan itu, tangis
putri kami meraung. Seketika kurasa angkasa jatuh di atas kepalaku.
“Araaaaaaaaaaa…………..Araaaaaaaaaaaaa…..”, raungku hebat, kupeluk tubuh
dingin Ara….

***

Anyer 10 Maret 2011.

Ditempat
yang sama, dikamar yang sama, namun aku sendiri tak bersama bidadariku
lagi. Hari ini tepat 11 tahun usia putri kami Ira, aku menamainya agar
kenangan tentang Ara tidak begitu saja hilang. Wajah Ira dan Ara sangat
mirip, bahkan foto masa kecilnya nyaris tak berbeda. Aku titipkan
putriku bersama kedua orang tuaku dirumah. Sedangkan aku memilih
menyepi, usai pesta ulang tahun putriku tadi. Disini aku berdiam,
menghabiskan berbatang-batang rokok di teras balkon hotel. Ketelusuri
setiap sudut kamar tempatku dan Ara pernah bercumbu dan memadu kasih.
“Ara….bidadariku, semoga kau tenang bersama-Nya dan semoga senyummu
selalu tersungging dengan indah. Aku telah menjaga putri kita seperti
pintamu…”, sementara suara Kaka meraung melengking di didinding sunyiku…

 

Slank – Anyer 10 Maret

Malam ini…kembali sadari aku sendiri

Gelap ini….kembali sadari engkau telah pergi

Malam ini…kata hati harus terpenuhi

Gelap ini…kata hati ingin kau kembali

Hembus dinginnya angin lautan

Tak hilang ditelan bergelas-gelas arak yang kutenggakkan…ooo….

Malam ini…kubernyanyi lepas isi hati

Gelap ini…kuucap berjuta kata maki

Malam ini…bersama bulan aku menari

Gelap ini…ditepi pantai aku menangis

Tanpa dirimu dekat dimataku, aku bagai ikan tanpa air

Tanpa dirimu ada disisiku, aku bagai hiu tanpa taring

Tanpa dirimu dekap dipelukku, aku bagai pantai tanpa lautan

Kembalilah…kasih ooo Kembalilah kasih

 

Nakula 14, 13.10.2011


Jawa Timur, 2012-06-22 : 16:38:43
Salam Hormat
Wara Srikandi

Wara Srikandi mulai gabung sejak tepatnya Kamis, 2012-06-21 15:41:56. Wara Srikandi dilahirkan di Malang mempunyai motto
Puisi : 18 Karya
Cerita Pendek : 4 Karya
Total : 22 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-10-27 | 06:48:38
DAFTAR KARYA TULIS Wara Srikandi
Isi Komentar CERPEN ~ ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........) 3824
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya CERPEN ~ ANYER 10 MARET (SAAT BERSAMAMU........) 3824 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Orang yang tidak memiliki tujuan akan selalu bekerja untuk orang yang memiliki Tujuan
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti