Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 2 : Keris Kyai Brongot Setan Kober) bag 3.
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3606 - 223.GIG
KRONOLOGIS KARYA » FAJAR MENYINGSING DI BLORA. (CHAPSTER 2 : KERIS KYAI BRONGOT SETAN KOBER) BAG 3. ± Cerita Bersambung - Legenda © GigihSantosa. Posted : 2012-04-04 : 08:46:40 (3022 hari 09:48:50 lalu) HITS : 2441 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama
  RESENSI :
Cerita yang digali dari negeri sendiri, dimana sebuah kepahlawanan muncul dengan sendirinya, hanya berpegang sebuah keyakinan tentang kebenaran.
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 2 : Keris Kyai Brongot Setan Kober) bag 3. GigihSantosa .--    Siang itu para murid padepokan welat jati sebagaian besar berada di lahan pertanian yang baru saja mereka buka. Begitu juga murid utama resi manik moyo, Dewandaru dan adik perempuanya Dyah woro kemuning. Merekapun bekerja sungguh sungguh dan terjun langsung dalam pekerjaan itu, tak berbeda dengan cantrik cantrik yang lain. Tapi siang itu hati kemuning betul betul merasakan sesuatu yang mengganjal dibenaknya, tapi apa, dyah woro kemuning pun tak tahu.
Disaat sebelum mereka berangkat tadi pagi, resi manik moyo mengatakan sesuatu yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, bahwasanya mereka harus menguasai ilmu terakhir dari warisan perguruan kepatihan jipang yang belum pernah seorangpun bisa menguasainya kecuali ki patih mentahun sendiri.  Sampai ajal menemui ki patih mentahun, ilmu itu juga dibawa kekuburnya. Murid murid beliau tiada yang sanggup mempelajarinya sampai tuntas.
Murid utama beliau sendiri yang bernama Tohpati yang yang terkenal dengan julukan macan kepatihanpun juga belum menguasai sepenuhnya aji pamungkas ini. Dan kini perguruan Ki patih mentahun sudah lenyap. Kecuali sisa sisa dari keturunanya langsung seperti resi manik moyo. Seiring tumbangnya kadipaten jipang, perguruan kepatihan jipang ikut menurunkun bendera mereka sendiri dikancah dunia persilatan.

Matahari persis diatas pusat bumi, sudah saatnya para murid perguruan welat jati kembali ke padepokan. Mereka akan kembali ke padepokan untuk makan siang dan sekedar istirahat sejenak. Dewandaru dan kemuning seperti biasanya juga melatih olah kanuragan disela sela pekerjaannya bersama para cantrik lain.
Berkelebatan pakaian Kemuning dan kakaknya Dewandaru. Meloncat loncat dengan lincahnya, seolah olah jalanya tidak menapak tanah lagi. Ilmu memeringankan tubuh dewandaru dan adiknya kemuning sudah mencapai tataran diatas rata rata. Mereka sangat tekun berlatih, selain bakat dan kekuatan fisik mereka berdua, darah mereka mengalir darah darah pendekar masa lalu.

Setelah mencapai kaki bukit disebelah padepokan, Dewandaru dan kemuning tidak berjalan memutar seperti murid murid yang lain. Mereka berdua langsung menaiki bukit supaya lebih cepat sampai dipadepokan. Saat ini kedua kakak beradik itu sekarang sudah sampai di lempeng bukit sebelah kanan, ditempat itu mereka bisa memandang segala arah termasuk padepokan mereka.
“Kakang apakah kakang tidak melihat hal aneh dipadepokan kita?” tanya kemuning kakaknya.
“Aku perhatikan memang ada yang aneh kemuning, kenapa di sekitaran banjar ada sebuah asap yang mengepul, bukanya didapur seperti biasanya” jawab dewondaru.
“hayo kakang kita segera turun untuk melihat keadaan yang sebenarnya, aku takut terjadi apa apa dengan guru.”
Tak menanti jawaban dari kakaknya, Kemuning langsut meloncat turun yang diikuti kakaknya Dewandaru. Hanya beberapa kali pijakan mereka telah sampai didepan banjar padepokan. Alangkah terkejutnya Kemuning dan Dewandaru, ada tiga jasad yang mati mengenaskan dibanjar itu.
“Guruuuuu” Kemuningpun tak bisa menahan tangisnya.
Biar bagaimanapun resi manik moyo sudah seperti orang tuanya sendiri. Selain mengasuh mereka sejak kecil, mereka juga berhubungan darah dengan Resi manik moyo. Ibu Kemuning dan dewandaru adalah adik kandung resi manik moyo.
Siang itu padepokan welat jati benar benar dalam suasana berkabung. Mereka telah ditinggalkan oleh guru mereka yang sangat mereka sayangi dan hormati. Dewandaru sampai terduduk tak mampu mengusai dirinya, dia hanya bersimpuh dihadapan mayat gurunya yang diiringi tangis adiknya kemuning. Beberapa saat mereka tenggelam dalam kesedihan yang membuncah. Semua sudut relung relung batin mereka dipenuhi penyesalan dan kemarahan.

Tak beberapa lama murid yang lain pun tiba, gegerlah padepokan welat jati. Melihat guru dan saudara perguruan mereka telah mati disebabkan oleh seseorang yang belum tahu apa motivnya.
Seandainya Dewandaru tidak bisa menyabarkan para cantrik itu, mereka akan mengamuk dengan apa yang mereka terka terka. Karena simpang siurnya pendapat, Dewandaru pun sampai kewalahan menerima pandangan dan pikiran dari semua saudara pergurunya. Akan tetapi Dewandaru saat ini benar benar mempunyai pemikirannya yang tajam. Setelah semua apa yang terjadi, Kemuning dan dewandaru pun menyelidiki semua bagian padepokan, mencari sisik melik tentang apa yang terjadi.
Tak beberapa lama mereka telah menemukan apa yang menyebabkan semua ini terjadi, Kemuning dan Dewandaru sudah tahu bahwa keris kyai brongot setan kober yang dimiliki gurunya telah raib. Dengan begitu menjadikan jawaban tentang apa yang menimpa guru dan saudara pergurunya.
“Ternyata orang yang membunuh guru dan saudara perguruan kita, menginginkan keris itu Kemuning” Dewandaru berkata kepada adiknya.
“Betul kakang, dan orang itu merebut paksa dari tangan guru” jawab Kemuning.
“Selanjutnya apa yang akan kita lakukan kakang?”sambung Kemuning.
Dewandaru berpikir sejenak, dan Dewandarupun menjawab pertanyaan kemuning dengan tarikan nafas yang dalam.
“Kita harus tetap menyelidiki siapa pelaku dari semua ini kemuning, apapun yang terjadi, karena kita tahu bahwa yang bisa mengalahkan guru hanyalah pendekar yang pilih tanding, maka bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan”.
Kemuningpun mengangguk angguk tanda setuju, setelah itu Kemuning menggamit tangan kakaknya tanda Kemuning ingin bicara diruang utama.
“Ada apa Kemuning, adakah sesuatu yang ingin kau sampaikan?” tanya Dewandaru.
“iya kakang, aku ingin bercerita sedikit tentang apa yang dikatakan guru tadi pagi, sewaktu kakang sudah berangkat duluan ke ladang, guru memberikan sesuatu padaku kakang”
“Apakah itu kemuning” Tanya Dewandaru.
Kemuning pun mengambil sesuatu dari balik baju rangkapnya.
“Ini kakang” kata kemuning sambil ulurkan sebuah kitab yang tidak begitu tebal tapi kertasnya sudah mulai menguning. Dewandaru membukanya, dan memperhatikan secara seksama kitab itu.
“Kitab ajian Ringin Dahana” gumam Dewandaru.
“Apakah ajian itu yang disebut sebut hanya mendiang patih mentahun saja yang menguasainya?” tanya Kemuning denga kakaknya.
“Santer yang terdengar dari para pini sepuh kita mengatakan begitu kemuning” jawab Dewandaru.
“Besok kita lanjutkan pembicaraan ini, sekarang kita harus ngrukti jasad guru dan saudara kita dengan sebaik baiknya.”
Dan sesungguhnyalah tidak menunggu malam tiba, jasad resi manik moyo dan dua murid padepokan yang ikut tewas nyata nyata sudah dikuburka.
Malam ini Kemuning dan Dewandaru serta para murid yang lain bersama sama bermunajad, berdoa kepada Tuhan yang maha esa, supaya orang  orang yang mereka cintai, dan yang telah mendahului mereka, diberikan tempat terbaik disisiNya.

Kita tinggalkan padepokan welat jati yang sedang berkabung, kita kembali kepada penari tayub kondang yang bernama Winarti yang sore itu sedang bersiap siap bersama rombonganya untuk pentas di sebuah kademangan pinggir kadipaten Blora. Tepatnya di kademangan wijilan, disana ada sebuah pesta pernikahan salah satu putra dari demang wijilan. Demang wijilan terkenal sangat royal, dermawan tapi juga mata keranjang.
 














 




Yogyakarta, 2012-04-04 : 08:46:40
Salam Hormat
Gigih Santosa

Gigih Santosa mulai gabung sejak tepatnya Minggu, 2012-02-26 09:57:36. Gigih Santosa dilahirkan di Gunung mempunyai motto Hidup adalah jalan untuk kembali kepada Nya.
Cerita Bersambung : 9 Karya
Cerita Pendek : 14 Karya
Prosa : 1 Karya
Puisi : 6 Karya
Kisah Nyata non Privacy : 1 Karya
Total : 31 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-07-13 | 18:35:30
DAFTAR KARYA TULIS Gigih Santosa
Isi Komentar Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 2 : Keris Kyai Brongot Setan Kober) bag 3. 3606
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 2 : Keris Kyai Brongot Setan Kober) bag 3. 3606 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Orang sukses tidak malu meminta pertolongan orang lain
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti