Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.3
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3582 - 223.GIG
KRONOLOGIS KARYA » FAJAR MENYINGSING DI BLORA. (CHAPSTER 1 : SEPASANG PENDEKAR GLAGAH KEMBAR) BAG.3 ± Cerita Bersambung - Legenda © GigihSantosa. Posted : 2012-03-30 : 13:04:18 (3025 hari 06:00:39 lalu) HITS : 3217 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama ()
  RESENSI :
Cerita yang digali dari negeri sendiri, dimana sebuah kepahlawanan muncul dengan sendirinya, hanya berpegang sebuah keyakinan tentang kebenaran.
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.3 GigihSantosa .--    Ki ajar jati mendengarkan laporan dari kedua muridnya. Mereka tidak lain adalah sepasang begal guntur geni, Tunggul yudo dan sampar yudo.
Nampak kening ki ajar jati mengerut sambil sesekali mangangguk angguk.
"Sampar yudo, apakah ada ciri ciri khusus dari orang tua tersebut?" Kiajar jati bertanya.
"Aku hanya melihat dari kejauhan guru, tapi tidak melihat adanya ciri ciri khusus itu" jawab Sampar yudo.
"Kau lihat senjatanya?" Ki ajar mengejar dengan pertanyaan, kali ini yang menjawab Tunggul yudo.
"Betul  kata adi Sampar yudo guru, bahkan kami tak melihat orang tua itu memakai senjata".
"Hanya tenaga dalamnya berwarna biru yang membuyarkan kami disaat sepasang glagah kembar itu sudah diujung maut" imbuh Tunggul yudo.
Nampak Kiajar jati kurang berkenan hatinya. Mukanya ditekuk, sambil terus berpikir siapa gerangan orang tua yang telah membela sepasang glagah kembar.
Ki ajar jati sangat mengenal orang orang pinilih yang berada di tlatah blora, bojo negoro, tuban bahkan sampai demak ataupun mataram.
Ki ajar jati tetap berpikir keras. Sesunguhnyalah ki ajar jati mempunyai banyak pengetahuan tentang ilmu ilmu kanuragan dan dari mana sumbernya.
Tenaga dalam yang dilontarkan berwarna biru hanya dimiliki oleh perguruan Pengging. Tapi sampai saat ini perguruan itu telah dinyatakan musnah. Murid terakhir yang bersumber dari ilmu pengging adalah kyai wihamboro. Kenyataanya Kyai Wihamboro sudah meninggal puluhan tahun yang lalu disaat mataram menghadapi pemberontakan Truna jaya.
Kyai wihamboro tercatat sebagai lurah prajurit kasultanan mataram dimasa  sinuhun Amangkurat I (sinuhun tegal arum) yang berkedudukan di plered. Truna jaya langsung yang bisa mengalahkan kyai wihamboro di sebuah pertempuran dengan gelar sempurna. Masing masing menjadi panglima dari dua pasukan yang saling berhadapan.
"Suatu saat aku pasti berhadapan dengan orang misterius itu" Kiajar jatipun hanya bisa bergumam dalam hati.
Dan seungguhnyalah orang tua yang disebut oleh  ketiga orang itu memang betul betul nyolowadi. Siapapun belum tau asal usulnya dan dari mana perguruanya.

Kita tinggalkan Kiajar jati yang  sedang gundah.
Pada saat ini Mataram mengalami kemunduran. Tidak ada raja lagi yang besar sebesar sultan Agung Hanyokrokusumo. Perang perebutan kekuasaan selalu mewarnai suksesi dipemerintahan raja raja jawa itu.
Selain memang dikarenakan politik devide et impera yang di gunakan belanda. Perpecahan itu sendiri juga dikarenakan semua keturunan langsung dari panembahan senopati merasa mempunyai hak sama akan tampuk kekuasaan tertinggi.
Dibumbui dengan intrik intrik busuk yang terjadi di dalam keraton sendiri, mataram yang pusat kerajaannya telah berpindah dari plered ke kartosuro (alas wonokerto) pada masa pemerintahan Amangkurat II, menjadikan kerajaan yang tak lagi berdiri kokoh.
Rongrongan perang saudara selalu mengintip setiap saat.
Kerajaan mataram saat ini dipegang putra raja Amangkurat II yang bergelar Amangkurat III. Pada masa mudanya bernama Raden Mas Sutikno.  
Raden mas Sutikno adalah putra Amangkurat II satu-satunya karena konon ibunya telah mengguna-guna istri ayahnya yang lain sehingga  mengakibatkan mandul. Mas Sutikna juga dijuluki Pangeran Kencet, karena menderita cacat di bagian tumit.
Sahdan dimasa itu kekuatan kerajaan Mataram menjadi dua kubu. Antara Amangkurat III yang mempunyai legitimasi kerajaan, berselisih dengan pamanya sendiri yang juga sekaligus mertuanya. 
Yaitu adik tiri dari ayahnya yang bernama Pangeran Puger, yang bertahan di plered sebelum pindah ke semarang.
Intrik dari paman dan keponakan bila diceritakan sungguh melelahkan. Ketika menjabat sebagai Adipati Anom (putra mahkota), Raden mas sutikno menikah dengan sepupunya bernama Raden Ayu Lembah, putri dari Pangeran Puger.
Namun istrinya itu kemudian dicerai karena berselingkuh dengan Raden Sukra putra Patih Sindureja.
Raden Sukra kemudian dibunuh utusan raden  Mas Sutikna, sedangkan Pangeran Puger dipaksa menghukum mati raden Ayu Lembah, putrinya sendiri.
Selanjutnya Raden Mas Sutikna kemudian menikahi Ayu Himpun adik Ayu Lembah (tak berlangsung lama terus bercerai karena perselisihan keluarga) masih juga putri dari pangeran Puger. 
Begitu kenyataan yang ada, Pangeran Puger dalam satu sisi adalah paman sekaligus mertua.
Disisi lain pemegang nata di mataram memang benar benar keponakan sekaligus mantunya, maka berkembanglah kebencian yang sangat dalam dihati pangeran Puger.
Seiring dengan itu, arus bawah tanah yang tidak setuju dengan pengangkatan Amangkarat III sebagai raja mataram menjadikan Pangeran Puger adalah satu satunya tandingan yang bisa menandingi Amangkurat III dari segi manapun.
Amangkurat III bukan tak tahu gelagat yang ada, dengan pasukan telik sandinya, Amangkurat III tahu bahwa keluarga pangeran puger akan mbalelo (memberontak). Sebelum semuanya terjadi, Amangkurat III/Raden Mas Sutikno telah mengutus prajurti terpilihnya dalam misi rahasia membunuh pangeran puger dan keluarganya.

Dan apa yang telah terjadi kemudian betul betul bom waktu telah meledak. Pangeran Puger sudah tahu akan dirinya yang menjadi target pembunuhan berancana Amangkurat III. Dengan diiringi para pendukungnya dan beberapa pasukan yang menyatakan setia kepadanya, pangeran Puger mengungsi ke semarang untuk mencari bantuan VOC (kumpeni belanda).
Pihak lain terkuat yang bisa menjadikan abang ijone (merah hijaunya) suksesi Raja Tanah jawa. Walaupun dengan perjajian busuk yang sangat memberatkan pihak yang bekerja sama denganya. Tetapi semua tiu tetaplah dilakukan, karena nalar telah dibutakan oleh segala sesuatunya.
Sesungguhnyalah pemberontakan kepada Amangkurat III sudah mulai terjadi dan dipimpin langsung oleh putra pangeran puger yang lain yaitu Raden Suryo kusumo.

Dimasa perseteruan keluarga raja raja Mataram, yang diwarnai intrik intrik, pengkhianatan, dan terpecah belahnya dukungan para bupati bupati yang berada diwilayah kekuasaan mataram. Yang membentang dari timur yaitu, Madura, Surabaya dan kabupaten kabupaten lain yang pada saat ini peta jawa timur adalah penuh sebagai wilayah mataram, dan sebagai pusatnya berada di jawa tengah sampai perbatasan pasundan yang terkenal disebutan Banyumas, kisah ini berlangsung......

Siang itu Kyai Pudak cengkar sedang menggembleng kedua muridnya. Dengan bimbingan ditangan orang yang mumpuni dari segala segi. Sepasang glagah kembar medapat pelajaran terbaik.
Baik olah kanuragan maupun kebatinan. Dengan landasan yang ada, Glagah wiru maupun Glagah seto tidak begitu sulit lagi dalam menyerap ilmu ilmu yang diberikan gurunya yaitu kyai pudak cengkar.
Sebelum itu glagah wiru dan glagah seto hanya berguru kepada ayahnya sendiri yang bernama Raden Narpati Onggoyudo.
Raden mas Narpati Onggo Yudo dulunya adalah seorang patih dikadipaten blora.  Setelah Terjadi pergantian kekuasaan tertinggi di mataram, dari amangkurat I (sinuhun tegal arum) yang direbut oleh anaknya sendiri yaitu Raden mas Rahmat (Amangkurat II) cucu dari pangeran pekik bupati surabaya, dan pusat kerajaannya berpindah dari plered ke alas wonokerto (kartosuro), Raden narpati onggoyudo memilih mengundurkan diri.
Keluar dari istana, hidup kembali menjadi rakyat biasa. Menghindari fitnah yang sewaktu waktu bisa menimpanya dikarenakan raden narpati onggoyudo adalah termasuk Trah pajang. 
Yang diwaktu pemberontakan Trunajaya pangeran dari madura, sebagian besar trah pajang berpihak dan mendukung kepada Trunajaya.
Itulah sekilas siapa sepasang Glagah kembar, didarahnya mengalir darah keturunan langsung Jaka tingkir/Mas Kerebet atau sewaktu menjadi raja di pajang bergelar Sultan Hadiwijaya lewat anak kandungnya pangeran Benowo.
Sesungguhnyalah ilmu ilmu linuweh yang berkembang ditlatah mataram yang paling menonjol memang berasal dari kakek canggah mereka yaitu Pangeran terakhir dari majapahit yang bernama Pangeran Handayaningrat.
Terungkap sudah benang merah yang menghubungkan kyai Pudak cengkar dengan sepasang glagah kembar. Kenapa kyai Pudak cengkar mau dan bersedia menjadi guru mereka berdua, dikarenakan mereka adalah sama sama orang orang yang berserakan dari Pengging.

Glagah wiru dan adiknya glagah seto masih mendengarkan penjelasan penjelasan dari guru mereka  Kyai Pudak cengkar yang begitu tatas, tetes, lan titis.
“Glagah wiru...Glagah seto, ilmu kalian adalah satu jalur dengan kepunyaanku, aku adalah termasuk paman guru ayahmu, karena guru ayahmu adalah adik kandungku sekaligus adik seperguruanku” kyai pudak cengkar memulai pembicaraan.
“Apakah pernah ayahmu bercerita tentang siapa gurunya?” tanya kyai Pudak cengkar.
Kali ini yang menjawab Glagah wiru...
“Pernah guru, almarhum ayah pernah bercerita kepada kami siapa guru almarhum ayah, guru almarhum ayah adalah kyai sinduworo” lanjut glagah wiru.
Kyai Pudak cengkar menarik nafas dalam dalam, terpampang dimatanya wajah almarhum adik satu satunya yang telah mendahuluinya.
“Aku adalah seorang Tua yang telah kehilangan segalanya, sewaktu mudaku aku terlau menuruti hatiku yang sangat haus akan ilmu joyo kawijayan, hingga kutinggalkan jawadwipa ini untuk mencari sumber sumber ilmu di tempat lain, yang menurut nalar seorang mungkin bisa dibilang ngoyo woro (mengada ada)” kyai pudak cengkar menjelaskan.
“Sindu woro ku tinggalkan waktu itu masih terlalu muda, ketika aku bertekad bulat pergi ke champadwipa (champa kurang lebih berada thailand dan burma saat sekarang) tuk memuaskan rasa dahagaku yang begitu menggelegak akan olah kanuragan, dan saat ini aku telah kembali,dan semua telah pergi mendahuluiku, dan yang paling mengecewakanku adalah bercokolnya kumpeni belanda yang dirasa dari hari ke hari dan dari tahun ketahun semakin kuat dan digdaya”. Glagah wiru dan glagah seto takzim mendengarkan gurunya berbicara.
“Nah Glagah wiru, Glagah seto..keadaan mataram saat ini betul betul diluar batas kawajaran, jangan pernah terpancing akan bujuk rayu dan sentimen keluarga ataupun iming iming jabatan maupun harta benda, pilihlah jalan kebenaran yang hakiki, kau bisa gunakan nalar dan budi pekertimu untuk memutuskan sesuatu masalah” sambung kyai Pudak cengkar.
“melihat landasan didikan kedua orang tuamu,kalian ternyata tumbuh menjadi pemuda yang tanggon dan trengginas,tinggal kalian harus pandai pandai memanfaatkan ilmu kalian”.
“jangan sampai tergelincir oleh sesuatu yang kecil tapi kelihatnya besar” kyai Pudak cengkar masih melanjutkan wedaranya.
Kedua glagah kembar mendengarkan dan mencamkan dalam hati masing masing apa yang diajarkan gurunya kepada mereka. Sesuatu telah timbul dihati masing masing, yang dulu hanya sebatas tak menerma keadaan sesungguhnya.
Sekarang mereka sudah bisa membaca laku jantraning kehidupan yang kasunyatan. Ternyata negri yang mereka cintai telah diobok obok semaunya sendiri oleh bangsa sabrang/asing.
Semua diambil oleh mereka. Hasil bumi, tanah, harta benda bahkan harga diripun telah berhasil mereka genggam. Tak terasa kepalan tangan sepasang Glagah kembar semakin kuat mencengkram. Ada darah muda mendidih disana.



Bagian 1 | Bagian 2 | Bagaian 3

Yogyakarta, 2012-03-30 : 13:04:18
Salam Hormat
Gigih Santosa

Gigih Santosa mulai gabung sejak tepatnya Minggu, 2012-02-26 09:57:36. Gigih Santosa dilahirkan di Gunung mempunyai motto Hidup adalah jalan untuk kembali kepada Nya.
Cerita Bersambung : 9 Karya
Cerita Pendek : 14 Karya
Prosa : 1 Karya
Puisi : 6 Karya
Kisah Nyata non Privacy : 1 Karya
Total : 31 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-07-11 | 19:04:57
DAFTAR KARYA TULIS Gigih Santosa
Isi Komentar Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.3 3582
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya Fajar Menyingsing di Blora. (chapster 1 : Sepasang Pendekar Glagah Kembar) bag.3 3582 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma

MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti