Ibu, mengapa Ibu menangis
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3561 - 63.NAT
KRONOLOGIS KARYA » IBU, MENGAPA IBU MENANGIS ± Filsafat - Keimanan © Nata. Posted : 2012-03-24 : 23:35:28 (3136 hari -10:37:44 lalu) HITS : 5109 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama Alfu Salam Sulis (3631) kumpulan puisi mutiarasukma23
  RESENSI :
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
Ibu, mengapa Ibu menangis Nata .--    Nata Hariadi.--  Ibunda, Kenapa Engkau Menangis - Banyak saat-saat ketika kita menemukan arti cinta seorang ibu



Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya.
Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh
bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15) - We have
enjoined on man kindness to his father and his mother.His mother bore
him with difficulty, and was delivered with difficulty (too). Pregnancy
and weaning is thirty months.
"(QS. Al-Ahqaf: 15)



Sesungguhnya wanita memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan
pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi
madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia
berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang
dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari
kesesatan dalam segala hal. Peran wanita dikatakan penting karena banyak
beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang
semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi
kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun
dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih
didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah :
Dan Kami perintahkan kepada manusia
(agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya
kepada-Ku lah kamu akan kembali
.” (QS. Luqman: 14). Begitu pula dalam firman-Nya, dipembuka catatan ini.



Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya.
"Ibu, mengapa Ibu menangis?".
Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah
seorang wanita, Nak
".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi.
Ibunya hanya
tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah
mengerti...
."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?
Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?
"
Sang ayah menjawab,
"Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan".
Hanya itu jawaban yang
bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi
remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu
malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita
mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan
wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar
mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu
harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang
tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan
mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap
berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan,
yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang
sudah putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat
keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh
kesah.  Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk
mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai
hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan
memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa
sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah
yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan
kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan
menyadarkan suaminya, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah
melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji
setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri,
sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.  Dan, akhirnya,
Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang
khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia
inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun
sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".



Mari sesaat kita mengambil hikmah dari sepenggal tulisa tadi untuk kita
mampu belajar mendekatkan diri kita pada Ibu kalau beliau masih hidup
dan mendoakannya bila beliau telah kembali kepada Allah. Ingatlah
sebanyak apapun kita menulis tentang beliau, itu belumlah cukup mampu
untuk menguraikan kasih sayangnya pada kita. Sembilan bulan kita berada
di dalam rahim beliau. Kurang lebih delapanbelas bulan bisa lebih kita
mendapatkan ASI dari beliau. Doa-doa yang terlantun dari lisan beliau di
setiap lima waktu sholat beliau untuk kita, rasanya adalah menjadi
bukti kalau cinta seorang ibu memang tiada bertepi.



Banyak saat-saat ketika kita menemukan arti cinta seorang ibu, yang
membuat kita semakin mengerti tentang arti kasih sayang seorang ibu pada
anaknya. Tentunya, arti kasih sayang dalam wujud yang seutuh dan
sebenarnya.

Pada sauatu saat pernahkah kita melihat bagaimana seorang ibu yang
dengan penuh cinta menuntun anaknya mengucapkan doa sebelum makan
sebelum beliau menyuapi makan pagi untuk sang anak.

Di suatu pengajian di sebuah masjid, kita menemukan arti cinta seorang
ibu yang lain. Beliau tetap menggendong anaknya sambil menyempurnakan
wudhunya. Sang anak memang tidak mau lepas dari pangkuan bundanya,
termasuk untuk membiarkan sang bunda menyelesaikan wudhunya dengan penuh
sempurna. Tapi, sang ibu tetap mengalah. Sambil menggendong sang buah
hati, beliau berusaha untuk menyempurnakan wudhunya.

Di beberapa malam di bulan Ramadhan, pernahkah kita mendapatkan seorang
ibu dan suaminya yang membawa serta anak-anaknya untuk beritikaf di
masjid. Bayangkan saja, sang ibu rela membawa sebegitu banyak
perlengkapan tidur untuk si anak, sekedar untuk memastikan si anak akan
merasa nyaman ketika menemani sang bunda berkhalwat dengan Sang Khalik.
Ada cinta yang lain kita temukan di sini, sang ibu tidak hanya ingin
sendirian menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba. Putra-putrinya
juga diajak serta, untuk memastikan si buah hati akan mempunyai
pengalaman spiritual yang, Insya Allah, akan membentuk si buah hati
menjadi putra-putri yang berakhlak mulia.



Ada salah satu sabda Rasulullah bahwa apapun kondisi fisik anaknya,
tetap tidak membuat cinta seorang ibu pada anaknya tergantikan oleh
apapun. Rasanya, batin kitapun membenarkan. Serpihan-serpihan cinta para
ibu di atas adalah benar ungkapan sebuah cinta dan kasih sayang seorang
ibu pada putra-putrinya. Kasih sayang yang seutuh dan sebenarnya. Lalu,
sudahkah kita sebagai anak melukiskan senyum di wajah ibu kita? Lalu,
sudahkan kita sebagai anak melakukan pengorbanan yang agak sedikit
mendekati pengorbanan ibu kita mengandung, melahirkan dan membesarkan
kita? Mengapa kita mengatakan "agak sedikit", bukan "setara"? Ingatlah
bahwa tidak ada pengorbanan seorang anak, apapun itu, yang bisa
menyetarai pengorbanan sang ibu. Bukankah seorang Ibnu Katsir telah
bercerita kepada kita : "Seorang laki-laki melakukan tawaf sambil
menggendong ibunya. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah. 'apakah aku
telah melaksanakan haknya?'. Beliau menjawab, 'Belum, tidak sebanding
dengan satu kali jeritan (yang dirasakan oleh seorang ibu ketika hamil
dan melahirkan)'".



Pengorbanan apapun yang kita lakukan memang tidak akan mampu membalas
pengorbanan ibu kita. Beliau telah mengandung, melahirkan, membesarkan
dan mendidik kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Namun, bisakah
kita membuat ibu kita tersenyum bahagia di sepanjang usianya, sebelum
waktu merenggutnya dari kehidupan kita? atau juga membuatnya tersenyum
dikuburnya bagi beliau yg telah kembali kepangkuan-Nya. Pertanyaan ini
tidak hanya untuk saudaraku, tapi juga untukku. InsyaAllah terbuka jalan
bagi kita meraih ridhaAllah melalui ridha orang tua kita.

Mohon maaf atas segala kekurangan. Wallahu 'alam.

Sumatra, 2012-03-24 : 23:35:28
Salam Hormat
Nata Heriadi

Nata Heriadi mulai gabung sejak tepatnya Rabu, 2012-03-28 07:41:31. Nata Heriadi mempunyai motto
Filsafat : 31 Karya
Surat dari Hati : 1 Karya
Opini : 1 Karya
Resensi : 1 Karya
Total : 34 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-10-24 | 12:57:44
DAFTAR KARYA TULIS Nata Heriadi
Isi Komentar Ibu, mengapa Ibu menangis 3561
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya Ibu, mengapa Ibu menangis 3561 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Orang sukses berpikir dulu baru bertindak
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti