Pintu Gerbang Kematian
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2012.3505 - 223.GIG
KRONOLOGIS KARYA » PINTU GERBANG KEMATIAN ± Cerita Pendek - Keimanan © GigihSantosa. Posted : 2012-03-14 : 16:25:39 (3113 hari -03:22:51 lalu) HITS : 3275 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama ()
  RESENSI :
Oh Tuhan, aku terlalu bingung untuk berdoa kepada-Mu, atau sumpah serapahku untuk sebuah sakaratul maut yang saat ini tak ku inginkan! Aku tak perlu jawaban-Mu, aku ingin bertarung dengan sakaratul maut-Mu saja. Biarpun aku sangat faham, aku tak akan menang berhadapan dengan-Mu.
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
Pintu Gerbang Kematian GigihSantosa .--    Aku menggigil bukan karena kedinginan. Bayangan hitam itu benar benar mengarahku. Entah kenapa  perasaanku tiba tiba sangat tak enak. Bayangan itu semakin mendekat.
Aku mencium bau busuk menyengat. Aku mencoba untuk mengerti apa yang terjadi, seiring semakin dekatnya bayangan hitam itu, bau busuk semakin pekat bergulung gulung disekitarku.
Aku lihat tubuhku masih utuh, tapi jaringan kulit dan urat dibawahnya jelas sekali tampak, seolah kulitku berubah menjadi kaca, hingga aliran darah dan juga otot otot yang bergelimpangan tampak seluruhnya, berdenyut tak menentu, membawa rasa panas yang hampir hampir tak tertahan. Selanjutnya aku telah berhadapan dengan bayangan hitam itu. Matanya semerah saga, seringainya melebihi serigala. Oh apa yang akan terjadi denganku? badankupun seolah olah lumpuh, aku tak berdaya.

Sekali aku ditampar super keras, PLAKK!!!, tak ayal lagi matakupun hampir loncat keluar. Sedetik kemudian mataku benar benar loncat keluar. Disahutnya mataku, perlahan jari jari bayangan hitam itu mengembang, selanjutnya tangannya diangkat persis didepan mulutnya, mataku dihembusnya dengan seribu tekanan, lebih dari tenaga tornado terhebat di dunia.
Mataku mencelat terbang sampai disuatu ruangan yang sangat aku kenal. Kamar hotel langgananku, kamar nomer 204.

Seorang gadis yang sangat aku kenal berumur 20 tahunan  dengan nafas terengah membelai seorang laki laki tua. Ya benar, seorang bandot tua.  Heiii bukan!!! bukan gadis itu yang membelai.  Tetapi bandot tua  itu yang terus menggerayangi tubuhnya dan menjilatinya sampai tuntas.
Bodoh!!! bodoh sekali gadis itu, kupikir.
Mereka ku amati dengan seksama. Kupelototi mereka berdua hingga si gadis menyadari keberadaanku, sepertinya.
Matanya sendu menatap dingin tepat menembak bola mataku. Aku terpejam, aku tak kuat melihat pemandangan itu.  Aku hanya dua bola mata, tapi bila mulutku ikut serta, aku akan berteriak, bajingan!!! Haram jadah!!! 

Aku tak kuat lagi. Aku ingin segera terbang lagi. Entah kemana saja tapi sesegera tinggalkan kamar laknat itu.
Plafon gypsum berlist indah  segera kudobrak dengan seluruh kekuatanku. Aku terpental tak kuat. Mataku seperti serangga yang terjebak dalam sebuah ruang oleh kemilaunya gemerlap lampu.
Ku coba lagi. Dan ku coba lagi. Usahaku sia sia, pemandangan dibawah tetap berlangsung.
Aku tak mau meilhatnya, aku muak!!. Penglihatanku semakin kabur, semakin buram, selanjutnya gelap. Pekat!

Beberapa lama kesadaranku mulai pulih. Mataku ku buka perlahan. Ternyata bola mataku telah kembali bersatu dengan tubuhku. Hanya saja aku telah berada ditempat yang sangat asing.
Di sebuah padang nan luas. Tak seorangpun kulihat disana. Tapi yang sangat aneh kurasakan, pendengaranku berlawanan dengan penglihatanku.
Kupingku mendengar jeritan tangis dan suara hiruk pikuk keramaian. Sayup sayup kudengar juga orang orang mengaji yasin. Aku mencoba amati keadaan, nalarku masih sepenuhnya bisa ku pakai. Aku ingin mencari bayangan hitam itu, karena kusadari semua ini terjadi pasca kemunculannya. Tapi kemana? Pandangan didepanku tetap hanya padang luas yang seolah tak bertepi.
Dalam kebimbanganku, aku mendengar suara yang sangat sangat ku kenal memanggil manggil namaku. Kupertajam pendengaranku. Benar!! dan aku yakin ini adalah suara istriku, kenapa hanya suara? dimana wujudnya? dan perlahan semua suara suara itu menjauh. Sedetik kemudian senyap. Hening. Sepi. Seketika itu juga angin berubah dingin. Bertambah dingin. Aku hampir membeku.

Aku masih sadar, walupun kurasa kesadaranku mulai menipis. Ya, ku kira kesadaranku belum habis. Tidak. Ternyata aku sama sekali tidak bisa menyadari apa ini sebenarnya.
Oh Tuhan tidak!!. Sebenarnyalah aku sungguh menyadarinya.

Air mataku mengalir bebas. Air mata ini tidak mengenai apa pun. Air mata ini tak melewati pipi. Air mata ini tak menyentuh apapun. Oh Tuhanku, kenapa air mata ini tidak punya tempat mendarat?
Dan tanganku pun ku buka perlahan. Achhh! Telapak tanganku yang sedianya untuk tadah air mataku, pun ditembus oleh air mata ini. Tuhanku!

Tanpa kusadari, ternyata aku telah menjadi serupa dengan bayangan hitam yang aku cari.
Oh Tuhan, aku terlalu bingung untuk berdoa kepada-Mu, atau sumpah serapahku untuk sebuah sakaratul maut yang saat ini tak ku inginkan!
Aku tak perlu jawaban-Mu, aku ingin bertarung dengan sakaratul maut-Mu saja. Biarpun aku sangat faham, aku tak akan menang berhadapan dengan-Mu.

Yogyakarta, 2012-03-14 : 16:25:39
Salam Hormat
Gigih Santosa

Gigih Santosa mulai gabung sejak tepatnya Minggu, 2012-02-26 09:57:36. Gigih Santosa dilahirkan di Gunung mempunyai motto Hidup adalah jalan untuk kembali kepada Nya.
Cerita Bersambung : 9 Karya
Cerita Pendek : 14 Karya
Prosa : 1 Karya
Puisi : 6 Karya
Kisah Nyata non Privacy : 1 Karya
Total : 31 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-09-21 | 13:02:48
DAFTAR KARYA TULIS Gigih Santosa
Isi Komentar Pintu Gerbang Kematian 3505
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya Pintu Gerbang Kematian 3505 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Hal-hal yang mudah saat ini dulunya pun sulit.
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti