CARA MENUNDUKKAN JIWA
The Power to be your best ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita

2011.2360 - 63.NAT
KRONOLOGIS KARYA » CARA MENUNDUKKAN JIWA ± Filsafat - Inspirasi © Nata. Posted : 2011-09-20 : 12:05:43 (3318 hari -07:27:46 lalu) HITS : 2238 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra lyrict-lagu-pilihan-lama () kumpulan puisi mutiarasukma23
  RESENSI :
Genggam erat keyakinan bahwa Allah akan menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu hal-hal yang terkecil. Dia akan memberitahukan hal itu kelak pada hari Kiamat, dan bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai dengan jenis amal perbuatan kita, amalan yang jelek akan dibalas dengan 'iqob dan azab-Nya sedangkan amal yang baik akan mendapatkan balasan rahmat dan ridho-Nya. Untuk itu jangan pernah lalai menjalani perintah-Nya dengan keikhlasan, kejujuran dan istiqoma dalam ketaatan.
Mutiara Sukma Situs Karya Seni dan SastraKarya inspirasi ini bebas dibagikan
  SELENGKAPNYA :
CARA MENUNDUKKAN JIWA Nata .--   
"Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat" (QS. Al-Hadid:4)


Bagaimana cara menundukkan jiwa dan mengarahkan menggaetnya kepada
kebenaran? Di antara ialah dengan rutin melakukan muhasabah dengan
muraqabatullah agar jiwa kita tidak terlena dalam kelalaiannya dan terjaga semangat kita untuk mengerjakan amal-amal shalih.

Muraqabatullah artinya perasaan senantiasa diawasi oleh Allah. Jika
kita memiliki perasaan ini, niscaya kita tidak akan pernah berbuat
maksiat, karena ia merasa selalu diawasi oleh Allah. Muraqabatullah
sangat penting karena beberapa alasan. Pertama, muraqabatullah merupakan
standar keberhasilan kita dalam upaya menuju kepada Allah. Inilah yang
dikatakan oleh Rasulullah ketika bertanya tentang ihsan. Beliau
bersabda,”Ihsan adalah ketika engkau beribadah seolah-oleh melihat
Allah. Dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwasanya Allah senantiasa melihatmu.” Kedua, muraqabatullah merupakan
indikasi hidupnya hati kita. Dan ketiga, muraqabatullah juga menunjukkan
sempurnanya ibadah kita.

Sifat muraqabah merupakan dasar
komitmen seorang muslim pada Islam yang merupakan sumber kekuatan kita
di saat sendirian dan di tengah keramaian. Jika terlintas dalam pikiran
untuk melakukan maksiat, maka kita akan segera ingat Allah subhanahu
wata’ala, bahwa Dia hadir mengawas lalu dengan serta merta kita akan
membuang pikiran ke arah maksiat itu sejauh-jauhnya, agar diri kita
terhindar dan terbebas dari perbuatan maksiat tersebut dan kita berazzam
untuk tidak mendekatinya lagi. Ingatlah bahwa Allahsubhanahu wata’ala
Maha Mengawasi dan menyaksikan semua perbuatan, kapan saja dan di mana
saja kamu melakukannya, di daratan maupun di lautan, pada waktu malam
maupun siang hari, di rumah tempat tinggal kita maupun di tempat umum
yang terbuka, segala sesuatu ada dalam ilmu-Nya, semuanya dalam
penglihatan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar apa yang kita ucapkan dan
melihat keberadaan kita, Dia Maha Mengetahui apa yang kita rahasiakan
dan apa yang kita tampakkan.

"Sama saja (bagi Rabb kalian),
siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus
terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan
yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.” (QS. Ar-Ra'ad:10).


Apabila hakikat muroqobah apabila benar-benar terhujam di dalam hati
kita, kita akan benar-benar merasa malu dilihat oleh Allah jika kita
melanggar larangan-Nya atau kita meninggalkan perintah-Nya. Al-Munawy
berkata, “Takut kepada Allah dalam keadaan seorang diri jauh lebih
tinggi daripada takut kepada-Nya dalam keadaan terang-terangan.

Mari kita sesaat bertafakur pada satu kisah yg terjadi pada masa Umar
bin Khahthtab, kisah yg teramat sering kita dengar tapi tak salah untu
kita renungkan kembali.
Sayyidina Ummar ibn Khattab pernah berjalan
ke sebuah bukit di makkah dekat tempat tinggalnya. Dahsyat, bukit itu
terlihat sebagian besar putih bersih tertutup oleh ribuan domba milik
salah seorang penduduk mekkah waktu itu. Dan subhanallah lebih dahsyat
lagi, terlihat seorang anak kecil sekitar 10 tahunan yang ternyata
menggembala ribuan domba.
Sang Khalifah tertarik memiliki salah satu
domba yang banyak tadi. Dan ia berfikir akan sangat mudah mendapatkan
domba yang bagus-bagus itu kalau hanya harus menghadapi penggembala yang
masih anak-anak tadi.
"...satu saja nak, tidak banyak. Majikan mu
tidak akan tahu kalau dombanya hanya hilang satu saja. Dan akan ku bayar
lebih mahal... " pinta sang khalifah
Apa dikira ternyata sang Khalifah harus begitu lama dan alot untuk meminta domba yang diinginkan.

Sang anak terakhir kali berucap "majikan saya mungkin tidak tahu tuan,
dan domba banyak ini tidak akan banyak berkurang tapi tuan, dimana kah
Allah... ?"
Ummar ibn khattab tertegun dan langsung terharu
mendengar ucapan anak itu. Subhanallah betapa hebatnya keteguhan dan
keyakinan anak kecil tadi.

..."sesungguhnya Allah ada dimanapun kamu berada..."


Bagaimana dengan kita kita saat ini yg tak pernah terpikir dan acap
lalai mengingat Allah sehingga kita bebas berbuat sekehendak hati tanpa
merasa bahwa Allah mengawasi kita dalam setiap helaan nafas kita.
Alangkah naifnya diri kita dalam melakukan sesuatu hanya takut kepada
pengawasan manusia. Lihatlah sekeliling kita saat ini betapa banyak
mereka yg memutar balikan ayat-ayat Allah, dengan congkaknya mereka
membuat pencitraan diri disebalik uang rakyat yg mereka korupsi sehingga
banyak rakyat yg hidup dibawah garis kemiskinan.
Mereka lalai dan
congkak walaupun lisan mereka mengaku Islam tapi perbuatan mereka
sungguh jauh menyimpang dari syariat islam. Mereka menutupi kemaksiatan
mereka dengan kebohongan dan disusul kebohongan yg lain mereka
mengingkari bahwa "Sunggguh Tiada Ilah yang hak disembah selain Dia dan
tiada Rabb selain Dia. Di dalam shahih Imam Bukhari, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan makna "Ihsan" tatkala beliau
ditanya oleh Jibril ‘alaihissalam tentang hal itu, "Engkau menyembah
Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya
maka yakinilah bahwa sesungguhnya Dia Maha Melihatmu"

Seorang
shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 'Ubadah Bin
ash-Shamitradhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallambersabda, "Sesungguhnya keimanan yang paling utama
adalah engkau menyadari bahwa Allah bersamamu di mana pun kamu berada".
(HR. Thabrani).
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasululllah
shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, "Sungguh aku mengetahui beberapa
kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa
kebaikan-kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih, lalu Allah jadikan
kebaikan-kebaikannya tersebut seperti debu yang berterbangan, mereka itu
adalah saudara-saudaramu, dari jenis kulitmu, dan mereka menjadikan
malamnya sebagaimana kalian menjadikannya, akan tetapi mereka kaum yang
apabila dalam keadaan sepi mereka melanggar larangan-larangan
Allah.”(HR. Ibnu Majah

Pada suatu malam yang gelap gulita.
Ketika manusia tengah tertidur dengan pulasnya, Umar berjalan untuk
melihat kehidupan rakyatnya. Didalam perjalanannya Umar tertarik pada
satu rumah yg masih terang benderang dan ia berhenti (artinya pemiliknya
itu masih terjaga bukan?). Ternyata yang tinggal di rumah itu adalah
seorang wanita tua beserta anak perempuannya yang mencari nafkah dengan
berjualan susu. Mereka tengah menuang-nuangkan susu ke dalam suatu
wadah. Kemudian ibu itu berkata, “Anakku, kenapa tidak kau campur saja
susu ini dengan air tawar. Dengan demikian kita akan mendapat keuntungan
yang lebih. Para pembeli tidak akan mengetahui perbedaan rasanya kok!?”

Tapi anak perempuannya itu menolak dan berkata, “Tapi Ibu, walaupun
tidak ada orang yang melihat atau mengetahui perbuatan kita, Allah pasti
tahu khan???”
Demikianlah Umar yang mendengar percakapan ibu dan
anak tersebut sangat terkesan dengan jawaban si anak yang takut kepada
Allah.

DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam Taujih Nabawy, menerangkan bahwa ada dua sarana untuk menghidupkan muroqobah yaitu, :

Pertama: Memiliki keyakinan yang sempurna bahwa sesungguhnya
Allahsubhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala yang dirahasiakan dan
segala yang nyata, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

"Dia Allah yang disembah di langit dan di bumi, Dia Mengetahui apa yang
kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan, dan Dia Mengetahui apa yang
kamu usahakan" (QS. Al-An'am:3)
Sesungguhnya hakikat muroqobah
seperti ini apabila benar-benar terhujam di dalam hati seseorang, maka
dia akan benar-benar merasa malu dilihat oleh Allahsubhanahu wata’ala
jika dia melanggar larangan-Nya atau dia meninggalkan perintah-Nya.

Al-Munawy berkata, “Takut kepada Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan
seorang diri jauh lebih tinggi daripada takut kepada-Nya dalam keadaan
terang-terangan.
Ke dua: Memiliki keyakinan bahwa Allah subhanahu
wata’ala akan menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu
hal-hal yang terkecil. Dia akan memberitahukan hal itu kelak pada hari
Kiamat, dan bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai dengan jenis
amal perbuatan seseorang, amalan yang jelek akan dibalas dengan 'iqob
dan azab-Nya sedangkan amal yang baik akan mendapatkan balasan rahmat
dan ridho-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan
diletakkanlah al-kitab (buku catatan amal perbuatan), lalu kamu akan
melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis)
di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini
yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,
melainkan dia catat semuanya; dan mereka mendapati apa yang telah mereka
kerjakan ada (tertulis dihadapan mereka). Dan Rabbmu tidak menganiaya
seorang jua pun". (QS. Al-Kahfi:49).

Sepatutnyalah kita selalu
merasakan muroqobatullah (merasa selalu dalam pengawasan Allah) setiap
saat. Dalam stiap desah nafas kita, dalam setiap detak jantung kita
hendaklah hati dan lisan kita dalam keadaan zikirullah yg berangkat dari
keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala senantiasa melihat kita,
mengetahui rahasia kita, dan Dia Maha Tahu terhadap segala perbuatan
kita, bahkan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. hanya dengan
keyakinan seperti itu, jiwa kita merasa tentram karena selalu terjaga
karena mewrasa dibawah pengawasan Allah subhanahu wata’ala, jiwa akan
merasa betah berdzikir kepada-Nya, akan ikhlas melaksanakan keta'atan
kepada-Nya dan jiwapun akan berpaling dari selain-Nya.

Seorang
guru menyuruh santrinya untuk pergi memotong seekor merpati pada tempat
yg tidak bisa diketahui siapapun. Setelah beberapa hari ia kembali
kepada gurunya. Guru, bukankah engkau menyuruhku untuk memotong merpati
ini di tempat yang tidak bisa diketahui siapapun?. Sang guru menjawab,
“Iya, tepat sekali,” Ia pun menjawab, “Maaf guru tapi saya tidak
menemukan satu tempat pun di bumi ini yang tidak terlepas dari
pengawasan Allah. Jadi bagaimana saya bisa untuk memotong merpati
ini???” Imam Ahmad menuturkan, “Jika pada suatu hari engkau sedang sepi
dalam kesendirian, maka janganlah engkau mengatakan, "Aku sedang
sendirian", tapi katakanlah, "Aku sedang diawasi oleh Dzat Yang Maha
Mengawasi". Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah subhanahu
wata’ala itu dapat saja berbuat lengah sesaat dan janganlah pula engkau
sekali-kali mengira bahwa apa yang kamu sembunyikan itu tersembunyi pula
bagi Allah.”

Ikhlas. Dengan adanya pengawasan Allah,
mudah-mudahan dapat menjadikan segala perbuatan kita ditujukan karena
Allah, bukan karena yang lain. Keterjagaan dan keterasingan kita dari
kehidupan dapat membuat pikiran kita kembali segar dan jernih. Inilah
yang mesti kita cari, di ketika kita terasing dari keramaian dunia, kita
kembali mengingat Allah. Dan, ketika hanya Allah yang tersisa dalam
ingatan kita, kita kembali lagi ke tengah keramaian dengan membawa bekal
dari Allah: “muraqâbah”. Ketika Allah bersama kita dan selalu setia
menemani kita, mengawasi dan peduli. Dan kita pun menjadi selalu peduli
untuk mengingat-Nya.
Jujur. Dengan merasa adanya pengawasan Allah
maka kita akan senantiasa berbuat jujur di mana pun karena kita yakin
Allah akan melihat perbuatan kita.
Istiqamah artinya ketetapan hati.
Jadi, meskipun teman sekantor kita ramai-ramai melakukan korupsi
berjemaah namun kita tidak akan berpaling dari-Nya dan kita tidak akan
terbujuk rayu bisikan hawa nafsu karena kita yakin bahwa Allah melihat
semua perbuatan kita. Walaupun kondisi ekonomi kita pas-pasan dan jauh
dibawah mereka namun kita seharusnya tidak bersedih hati. Malah kita
harus berlapang dada. Kenapa?? Karena walaupun kita miskin dimata
manusia tapi setidaknya kita sudah kaya di mata Allah.

Genggam
erat keyakinan bahwa Allah akan menghitung dan menghisab segala sesuatu
meskipun itu hal-hal yang terkecil. Dia akan memberitahukan hal itu
kelak pada hari Kiamat, dan bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai
dengan jenis amal perbuatan kita, amalan yang jelek akan dibalas dengan
'iqob dan azab-Nya sedangkan amal yang baik akan mendapatkan balasan
rahmat dan ridho-Nya. Untuk itu jangan pernah lalai menjalani
perintah-Nya dengan keikhlasan, kejujuran dan istiqoma dalam ketaatan.

Sumatra, 2011-09-20 : 12:05:43
Salam Hormat
Nata Heriadi

Nata Heriadi mulai gabung sejak tepatnya Rabu, 2012-03-28 07:41:31. Nata Heriadi mempunyai motto
Filsafat : 31 Karya
Surat dari Hati : 1 Karya
Opini : 1 Karya
Resensi : 1 Karya
Total : 34 Karya Tulis
Kastil Cinta Ku, 2020-10-20 | 04:37:57
DAFTAR KARYA TULIS Nata Heriadi
Isi Komentar CARA MENUNDUKKAN JIWA 2360
Nama / NameEmail
Komentar / Comment
BACK




ATAU berikan Komentar mu untuk karya CARA MENUNDUKKAN JIWA 2360 di Facebook



Terimakasih
KASTIL CINTA KU ,



CORNER KASTIL CINTAKU Mutiara Sukma
Kehidupan yang disia-siakan tidak pantas dijalani.
MIS Mutiara Sukma : Dian Tandri | Suryantie | Ade Suryani | Arum Banjar Sarie | Ambar Wati Suci | Chintia Nur Cahyanti