KATALOG KARYA TULIS DI BALIK 5 TAHUN USIA PERNIKAHAN No : 2011.2056 Opini - Inspirasi © 2011-08-21 : 09:21:28 (3805 hari 03:35:20 lalu)
KRONOLOGIS KARYA : Jumlah perolehan HITS 1771 Mutiara Sukma Portal Karya Seni dan Sastra Jumlah Komentar : 0 Komentator Pengiring Inspirasi : lyrict-lagu-pilihan-lama Status Karya Tulis : Publish
Share
>


SOUNDTRACK
Selamat SiangThe Power to be your best
ternyata tak ku duga, di sini mulai cerita
Lagu merupakan lagu pilihan MIS 1 Mutiara Sukma Ayu Lestari Dwi dipersembahkan dengan inspirasi : masih bersama mis mutiara sukma, masih iringan degung parahyangan masih bersama gelora rasa yang tiada reda, selama hayat masih di kandung badan.... Buka mata buka hati Satukan hati dan pikiran. Kastil Cinta Ku [MEMBANGUN CINTA MOMENT : 2021-11-10 06:09:33] RESENSI KARYA TULIS :
DI BALIK 5 TAHUN USIA PERNIKAHAN (Ayu Lestari Dwi,2011).--

SUKA duka dalam mengarungi rumah tangga selama lima
tahun

SUKA duka dalam mengarungi rumah tangga selama lima
tahun atau lebih tentu lebih "semarak", bukan? Apalagi umumnya dalam
rentang lima tahun, Moms and Dads sudah memiliki satu atau dua orang buah hati.
   
Meski
ada yang mengatakan usia rawan pernikahan itu di bawah lima tahun,
belum tentu segalanya aman, tenteram, sentosa jika berhasil melewati
lima tahun tersebut.

Menurut Dr Adriana S. Ginanjar, M.S, Staf
Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ada sederet masalah
yang kerap terjadi dalam lima tahun masa pernikahan, antara lain masalah
penyesuaian dan kecocokan satu sama lain, bertambahnya tuntutan peran
(misal sebagai istri-ibu-wanita yang bekerja), adanya budaya di
Indonesia yang mengikutsertakan keluarga besar (metua, adik atau kakak
ipar dan lainnya), perbedaan adat istiadat, harapan keuangan dan
pengelolaannya, perbedaan harapan yang kurang dikomunikasikan sejak awal
pernikahan.

Pentingnya kerja sama

Harus diakui, pada awal lima tahun pernikahan akan ditemukan beragam masalah yang berasal dari dalam keluarga.

Ini
wajar. Karena terkadang apa yang diharapkan pada awal pernikahan
seperti setelah bulan madu akan harmonis, mempunyai keluarga kecil
bahagia, minim konflik, dan lainnya tak seindah kenyataan. Untuk itu,
dibutuhkan kerja sama dan saling mendukung agar dapat bertahan.

Hindari topik sensitif dengan nada negatif

Berbeda
pendapat dengan pasangan itu lumrah, tinggal bagaimana Anda
menyikapinya. Cobalah memahami perbedaan laki-laki dan perempuan, mulai
dari pola pikir, arti uang bagi suami/istri, makna hubungan intim dan
sebagainya.

Interpretasi Moms and Dads perlu disamakan
agar tidak terjadi kesalahpahaman. Bijaklah dalam menghadapi topik-topik
sensitif dalam rumah tangga. Misal suami dan istri memiliki perbedaan
pendapatan yang besar, hindari mengulas uang!

Selain itu, topik
sensitif lainnya ialah keluarga besar, hubungan intim, peran istri yang
sudah keibuan alias lebih fokus pada anak.

Jadi, penting bagi Anda berlaku sebagai pendengar yang baik tanpa mencela pasangan, agar ia merasa dibutuhkan serta dihargai. 

Hadapi, realistis dan toleran

Saat
masih lajang, tak sedikit wanita yang memiliki 'impian' pernikahan yang
indah bak cerita dongeng atau perjalanan rumah tangga semulus batu
pualam. Hmmm, tentu bukan hal bijak untuk dipercayai ya!

Selain
menyatukan semua yang berbeda menjadi kesatuan, pernikahan -menurut
budaya di Indonesia- juga menyatukan dua keluarga besar. Tentu ini
merupakan sebuah tantangan. Jadi, melihat perkawinan bukanlah
satu-satunya sumber kebahagiaan, mungkin dapat membuat kita memahami
kenyataan dan siap menghadapinya.

Toh, harmonis bukan berarti keluarga tanpa pertengkaran dan tidak harus selalu satu kata seirama.
Yang
terpenting, terimalah perbedaan dari pasangan Anda dan pahami bahwa
memang ada masalah atau perbedaan yang tak bisa terselesaikan dan harus
diterima sampai kapanpun. Inilah bentuk toleransi terbaik.

Lima kiat tetap harmonis:

1.
Ungkapkan harapan-harapan Anda berdua secara konkret dan terbuka.
Bicarakan dan sesuaikan dengan perannya masing-masing. Misal Dads
sangat senang jika setiap bangun tidur disediakan teh manis hangat dan
kudapan manis, bukan hidangan berat seperti nasi goreng atau bubur ayam.


2. Setiap pasangan bisa berubah. Jadi, selalu luangkan waktu
untuk mengenal pasangan dan mengetahui apa yang saja berubah. Misal, dua
tahun lalu sang istri masih sering khawatir soal keuangan namun tahun
ini sudah bisa mengaturnya lebih baik. Bangun komunikasi positif dan mau
saling mendengarkan –bukan berisi kritikan- agar semua masalah dapat
dibicarakan dengan tidak saling menjatuhkan.

3. Cukup realistis,
bukan hanya menuntut melainkan saling memberi. Realistis yang dipahami
adalah perkawinan bukan hanya ada kebahagiaan namun juga bertemu dengan
konflik dan harus diselesaikan. Diskusikan jika ada yang diinginkan atau
dituntut tapi jangan lupa memberikan peluang. Contoh, suami
menginginkan sang istri untuk tidak bekerja setelah menikah, namun
berikan peluang istri untuk memilih sekolah atau les si kecil.

4. Perlunya honeymoon kedua, ketiga dan seterusnya. Kehadiran si kecil bukan alasan bagi Moms untuk tidak bisa melakukan hal berdua saja dengan Dads.
Tak harus keluar negeri atau luar kota, menikmati sehari bersama suami
dengan menonton film atau makan makanan favorit berdua saja sudah cukup.


5. Jika masalah tetap tidak bisa teratasi meski sudah banyak
yang dilakukan dan didiskusikan, tak ada salahnya berkonsultasi dengan
psikolog. (Sumber: Mom&Kiddie dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2011/08/19/196/493959/di-balik-5-tahun-usia-pernikahan)






Indonesia,
Manajemen Mutiara Sukma
Ayu Lestari Dwi mulai gabung sejak 4071 hari 04:47:24 lalu tepatnya 2010-11-28 08:09:24. Ayu Lestari Dwi mempunyai motto Jika kita enggan melakukan hal yang kecil manamungkin kita dapat melakukan tugas yang besar