Mutiara Sukma 14 Nopember 2019

NYANYIAN JIWA



Kekasih,

Semusim tlah berlalu, hari ini kita kembali bertemu. Di bawah guyuran hujan, di dalam gubug bambu. Ketika bulirbulir bening menjadi saksi bisu, tetes demi tetes jatuh dari ujung daun rumbia. Yang menjadi peneduh atap ruang rindu kita.




Kekasih,

Masih kudengar irama degup di dadamu, masih juga mengisyaratkan rasa yang sama. Meski kau hanya diam dalam kebekuan masa, meski kau hanya memandang dalam kebisuan rasa. Namun kidung itu masihlah sama. Kidung cinta asmaradhana.



Wahai pujangga,

Dengarlah pula rindu yang menyesak dada, tidakkah kau rasa geletar yang sama. Tembang katresnan masih mengalun di ruang jiwa, ketika sentuhmu menghujam di kedalaman rasa, menghunus hingga ke dasar kalbu, melambungkan angan, hinggap ke masa lalu.



Duhai penguasa jiwa,

Rinduku membadai, diantara nyanyian hujan ragaku terkulai. Tertiup bayu berhembus sepoi, ketika satu persatu bias rasa terburai, helai demi helai. Ketika pasung nurani terlepas dari kunci pengikat, betapa telah tertambat gelora dengan hebat, luluh angkuhku dalam rengkuhmu, luluh hasratku dalam hangat dekapmu.



Duh kesuma,

Pagutpagut kecil di jengkal rasaku, desir demi desir mengalir, mengacau gelisahku. Telah mematung raga di hadapanmu, telah pula lumat bibir dalam hangat kecupmu. Mengais harap di sisa pertemuan kita. Ketika hujan beranjak meninggalkan riuh dan gelinjang senja. Senyummu hangat menyelimut akhir perjumpaan kita....



Aaaah......



Nakula 14, 04.12.2012


 

Sumber :

Redaksi Mutiara Sukma 2012-12-04 20:03:41>

Dibaca terakhir : 2019-11-08 12:41:26