Mutiara Sukma 22 Nopember 2019 salam manis yg sedang terdiam.
Merenung selalu,
bertanya tentang kabar yg bergerak sealur puisi.

Kurang apa tanah yg gersang.
Membelah kecil membentuk jalan untuk sang semut.
telah terurai,
satu jembatan pesimis menghangatkan kilas balik.
meliukkan dan merapat kembali
stelah hujan membanjiri bumi.

Jangan sungkan,sayang.
tuk beranjak menjadi yg terpilah
Jangan ragu,sayang
tuk menyambut sekawan camar yg sedang merayu.

Tetap ku kulum senyumku.
Untuk semua bintang bersinar.
Walau hanya selewat,
setipis gundahmu yg sedang terendam.

aku mengerti,
Tepi batas ini,alamat cinta tak ditemukan
Kerlipnya bak pelangi,
membias tak bisa tersentuh lagi.

Hanya bisa dilihat indahnya
Hanya bisa dinikmati suaranya
Hanya bisa disyukuri tawanya
Hanya bisa didengar kicau puisinya

aku mengerti,
Tepi batas alamat sang cinta
Hanya merunai
satu blok hati yg dianggapnya baik
Hanya merinai
khilafnya yg diharap

aku mengerti,
Tepi batas ini tak terjal,
Namun
menyakitkan jika tidak tersentuh.

Serawak ganyam tercuri hebat oleh pandangan
Menembus batas harapan
Cemburu terjadi berlipat kertas
Tertulis sebuah risau
Terukir sebuah gelisah
Terserat sebuah penantian

Kunci kunci membias membayang dan terbayang
Sahutnya terjelang
Berkata andai selalu terungkap
Sahutnya terlampiaskan
Berkata andai separuh harapan

Bertanya pada curahan
Apakah sahut menjadi bubut dlam deritanya
Bertanya pada gelagat
Apakah matanya tak kedip menikmat cawan

Kunci kunci merajalela,
melampiaskan pada sinar2 yg lain
Padahal,
satu sinar didalam hatinya,hanya ada nama dahulu

sungguh,terfikir satu risalah.
Waktu dan gelombang cinta begitu sama
Seolah sang penawar adalah serpihan lara yg dulu

sungguh,terfikir satu lampias.
Waktu menjelma ikrarnya dibalik bambu
Gelombang menyerupai bingkai,
satu sifat yg terlontar dari kekasih yg pernah hilang
Dan,
aku kehilangan,
Mungkin,
suatu instuisi pagi,
mengirimnya dalam bentuk yg lain.
yang tak kusadari dengan rasa di hati.


Mungkin doa yg mirip seperti dahulu,
terhatur dari hatinya
ada kilas di balik itu,
Mengapa
Bungkusan itu menyelam seperti dya.
Yg dulu kucinta serta ku puja.
Dan sudah lama
tlah hilang terhempas waktu.

Ingin ku kultus angin sembilu,
Membiarkan gerik menjadi takjub serasa jiwa
Aku ingin lihat sang jelita tertawa
Ingin jua melihat sang jelita bahagia

Tapi tak mampu
Jika penopang kaki
Menjadi pilu dan bergetar mengangkat dada

Karena dya,
kiriman angin sejuk yg terlempar dari surga.
pernah ku tepis satu hari,
Gelombang malam minggu
Kau serunaikan perih
Berpura pura suka,
Berpura pura tawa.
pernah satu hari,
Gelombang sedih yg ku nikmati
Awal darimu karena kau cinta
Jujurlah pada diri
Agar kau tak beban dlam langkahnya

Jgan kau pendam seribu bahasa
Dan kau kunci mati dalam hatimu
Tuangkan lah,
Aku dengar suara hati
Dan jika aku layak untukmu
Aku pergi menjemputmu kasih
Aku masih sayang...
sungguh
Aku masih sayang...
mohonku
pada dosa yang membuatmu menangis.
jagalah hatimu
ketika ku jauh.

~PangeranCinta~2011

Sumber :

Redaksi Mutiara Sukma 2011-10-28 12:40:34>

Dibaca terakhir : 2019-11-22 11:21:38